Kawasan Gunung Bromo, Buthak-Kawinajang, Ijen, Lawu, Semeru, Arjuno hingga Argopuro menjadi gambaran bagaimana kompleksnya penanganan karhutla di Jawa Timur.
Pada lokasi yang masih dapat dijangkau personel, tim melakukan pemadaman manual, penyisiran, pembasahan dan pengendalian bara. Sementara titik api yang berada di kawasan sulit dijangkau melalui jalur darat mendapatkan dukungan operasi udara.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jatim Satriyo Nurseno sebelumnya menjelaskan, ketika kebakaran masih terjadi di kawasan Bromo, tim gabungan melakukan penyisiran dan pembasahan area terdampak untuk mengantisipasi munculnya kembali api.
Pendekatan serupa diterapkan dalam penanganan kawasan lainnya. Peralatan seperti gepyok, pompa, tangki air dan drone water spray digunakan sesuai kebutuhan lapangan. Pada kawasan yang sulit dijangkau, helikopter dengan sistem water bombing menjadi salah satu instrumen penanganan.
Di Gunung Bromo, misalnya, BPBD Jatim pernah mengerahkan helikopter PK-DAP untuk melakukan 17 kali water bombing dengan total sekitar 17.000 liter air dalam satu rangkaian operasi pada September. Operasi udara tersebut kemudian harus menyesuaikan kondisi cuaca karena kabut dapat mengganggu keselamatan penerbangan.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa operasi penanganan karhutla membutuhkan fleksibilitas. Ketika kondisi udara memungkinkan, dukungan water bombing dapat digunakan untuk menjangkau titik api yang sulit dicapai dari darat. Ketika cuaca tidak memungkinkan, kekuatan personel darat kembali menjadi tumpuan.
Bagi BPBD Jatim, keselamatan personel juga menjadi bagian penting dalam setiap keputusan operasi.

Bukan Sekadar Memadamkan, tetapi Memastikan Api Tak Kembali
Dalam penanganan karhutla, pemadaman kobaran api merupakan satu tahap dari rangkaian operasi.
Setelah api utama berhasil dikendalikan, tim masih harus melakukan pendinginan, pembasahan dan penyisiran. Bara yang tersisa di bawah vegetasi atau material kering dapat kembali memicu kebakaran ketika kondisi angin dan cuaca mendukung.
Pola tersebut terlihat dalam penanganan sejumlah kawasan pegunungan Jawa Timur.
Pada pertengahan September, ketika Bromo, Buthak-Kawinajang dan Lawu masih menjadi titik perhatian, Satriyo menyebut tim gabungan terus melakukan penyisiran dan pembasahan sebagai antisipasi munculnya kembali api.
Sementara pada 19 September, BPBD Jatim menyatakan Bromo telah padam total dan fokus penanganan bergeser ke Gunung Kawinajang Blitar dan Gunung Wilis.
Perkembangan tersebut menunjukkan bagaimana fokus operasi dapat bergeser mengikuti kondisi lapangan. Ketika satu titik berhasil dikendalikan, sumber daya dapat diarahkan ke wilayah lain yang membutuhkan penanganan.