Berdasarkan data terbaru BPBD Jatim, karhutla sepanjang musim kemarau telah terjadi di 25 daerah.
Enam wilayah mencatat luasan terdampak terbesar, yakni Lumajang lebih dari 2.190 hektare, Probolinggo lebih dari 1.800 hektare, Blitar sekitar 1.600 hektare, Banyuwangi lebih dari 1.400 hektare, sementara Jember dan Malang masing-masing mencatat ratusan hektare.
Daerah lain seperti Ponorogo, Magetan, Pasuruan, Bondowoso, Situbondo, Trenggalek dan Mojokerto juga berulang kali mengalami kejadian karhutla akibat kondisi vegetasi yang mengering.
Skala sebaran tersebut membuat penanganan tidak cukup dilakukan secara sektoral. Konsolidasi antardaerah menjadi bagian penting agar personel, peralatan dan informasi dapat bergerak sesuai kebutuhan.
Karena itu, BPBD Jatim menggelar Rakor Teknis dan Apel Siaga Gabungan dengan melibatkan dinas/OPD terkait, TNI, Polri serta BPBD kabupaten/kota se-Jawa Timur.
Armada juga disiapkan, mulai dari mobil tangki air, mobil water treatment, truk logistik hingga pompa air berkapasitas tinggi.
Kesiapan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan respons tidak terlambat ketika laporan kebakaran masuk dari daerah.
Argopuro Menunjukkan Pentingnya Pemantauan Pascapadam
Perkembangan terbaru di kawasan Argopuro juga memperlihatkan mengapa penanganan tidak berhenti ketika api sudah tidak terlihat.
BBKSDA Jawa Timur pada 2 Oktober melaporkan kawasan Cikasur di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang terpantau aman. Namun pemantauan satelit pada hari yang sama masih menemukan hotspot di sisi timur kawasan, pada lereng barat Gunung Kerinci/Kerincing.
Terkait