Khofifah Ungkap Luas Mangrove Jatim Capai 31.067 Hektare

parlemen | 27 Agustus 2026 07:24

Khofifah Ungkap Luas Mangrove Jatim Capai 31.067 Hektare
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky dan para tamu undangan berfoto bersama dalam rangkaian Festival Mangrove Jawa Timur ke-10 di Pantai Panduri, Kabupaten Tuban. (dok tribun)

TUBAN, PustakaJC.co – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan luas kawasan mangrove di Jawa Timur mencapai 31.067 hektare pada 2025. Luasan tersebut meningkat 3.846 hektare dibandingkan 2021 yang tercatat sekitar 27.221 hektare.

 

Khofifah menyampaikan hal itu saat menghadiri Festival Mangrove Jawa Timur ke-10 dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia 2026 di Pantai Panduri, Kabupaten Tuban, Rabu, (29/7/2026).

 

Menurut Khofifah, capaian tersebut menjadikan Jawa Timur sebagai provinsi dengan kawasan mangrove terluas di Pulau Jawa. Kontribusinya mencapai 47,85 persen dari total luasan mangrove yang ada di Pulau Jawa.

 

“Indonesia memiliki mangrove terbesar di dunia, yakni sekitar 3,45 juta hektare atau 23 persen dari total mangrove dunia. Karena itu, Jawa Timur siap menjadi leading province dalam pelestarian mangrove yang mendorong Indonesia menjadi leading country,” ujar Khofifah, dikutip dari teibunnews.com, Kamis, (27/8/2026).

 

 

Ia menilai besarnya potensi mangrove Indonesia harus diikuti dengan berbagai inovasi, kebijakan, dan gerakan pelestarian yang dapat menjadi contoh bagi dunia.

 

Khofifah mengatakan peningkatan luas mangrove di Jawa Timur merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, komunitas lingkungan, dan masyarakat pesisir.

 

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui berbagai program rehabilitasi mangrove, Gerakan Mangrove Lestari, serta Festival Mangrove Jawa Timur yang dilaksanakan secara konsisten setiap tahun.

 

“Dengan capaian tersebut, Jawa Timur menjadi provinsi dengan luasan mangrove terbesar di Pulau Jawa dengan kontribusi mencapai 47,85 persen dari total mangrove Pulau Jawa. Maka kalau tadi saya katakan Indonesia harus jadi lead country, maka Jawa Timur sebisa mungkin jadi lead province,” katanya.

 

 

Khofifah menegaskan keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya dilihat dari banyaknya pohon yang ditanam. Menurutnya, keberhasilan juga harus diukur dari kemampuan menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari kawasan pantai.

 

“Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mendorong rehabilitasi yang berbasis karakteristik ekologi. Selain rehabilitasi mangrove, pada lokasi tertentu juga dilakukan penanaman vegetasi asosiasi seperti cemara laut dan pandan laut,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi rehabilitasi ekosistem pesisir secara menyeluruh. Setiap kawasan diberikan perlakuan sesuai kondisi alam agar manfaat ekologis dan ekonomi dapat dirasakan secara berkelanjutan.

 

Dalam Festival Mangrove Jawa Timur ke-10, berbagai kegiatan edukatif dan kolaboratif turut digelar. Kegiatan tersebut meliputi pameran pelestarian mangrove, pertunjukan seni budaya, fashion show batik organik dengan pewarna alami mangrove, serta aksi penanaman vegetasi pesisir.

 

Khofifah bersama musisi sekaligus pegiat lingkungan Akhadi Wira Satriaji atau Kaka Slank, Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky, dan ratusan peserta turut melakukan penanaman vegetasi pesisir.

 

Pada kesempatan tersebut, Khofifah juga meresmikan Pantai Panduri sebagai destinasi wisata edukasi mangrove. Peresmian dilakukan bersama sejumlah pejabat pemerintah melalui penandatanganan prasasti.

 

Sebagai simbol komitmen menjaga kelestarian lingkungan, Khofifah bersama para tamu undangan menanam 700 bibit yang terdiri atas cemara udang dan pandan laut. Mereka juga melepasliarkan 100 ekor burung perkutut.

 

Dalam rangkaian festival, Pemerintah Provinsi Jawa Timur turut memberikan penghargaan kepada 21 individu, pemerintah daerah, perusahaan, dan pegiat lingkungan yang dinilai berkontribusi terhadap pelestarian mangrove di Jawa Timur.

 

 

Sejumlah penerima penghargaan di antaranya Bupati Tuban, Wakil Bupati Gresik, Wakil Bupati Lamongan, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, serta sejumlah perusahaan dan pegiat lingkungan.

 

Sementara itu, Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky mengapresiasi kepercayaan Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang kembali memilih Tuban sebagai tuan rumah Festival Mangrove Jawa Timur.

 

Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan dampak positif terhadap kesadaran masyarakat pesisir mengenai pentingnya mangrove sebagai pelindung pantai sekaligus penopang perekonomian.

 

“Hampir 30-40 persen mata pencaharian masyarakat kami adalah nelayan. Festival Mangrove yang ke-10 ini menjadi pilot project yang sangat strategis untuk memahamkan masyarakat bahwa tidak ada kekurangan sedikit pun ketika kita secara masif melakukan penanaman mangrove di bibir pantai maupun di dasar laut,” kata Aditya.

 

Ia menambahkan, mangrove tidak hanya berfungsi mencegah abrasi dan intrusi air laut, tetapi juga menyerap karbon dioksida serta menjadi habitat bagi berbagai biota laut seperti ikan dan kepiting.

 

Mangrove juga dinilai memiliki potensi ekonomi karena dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk, termasuk tepung dan kopi tanpa kafein.

 

Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan Dyah Murtiningsih turut mengapresiasi konsistensi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menjaga ekosistem mangrove.

 

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi modal penting dalam mempercepat rehabilitasi kawasan pesisir.

 

“Festival Mangrove ini membuktikan Jawa Timur sangat konsisten melindungi serta mempertahankan mangrove karena keberadaan dan fungsinya sangat diperlukan oleh masyarakat pesisir,” ujarnya.

 

 

Dyah menyebut hingga 2026, Kementerian Kehutanan bersama pemerintah daerah dan berbagai pihak telah melakukan rehabilitasi mangrove seluas 1.643 hektare di Jawa Timur.

 

Pemerintah Provinsi Jawa Timur pun terus mendorong penguatan konservasi mangrove agar kawasan pesisir tidak hanya terlindungi secara ekologis, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya. (ivan)