Sumbang Produksi Terbesar, Jawa Timur Antar Indonesia Kembali Swasembada Beras

parlemen | 08 Januari 2026 06:00

Sumbang Produksi Terbesar, Jawa Timur Antar Indonesia Kembali Swasembada Beras
Presiden RI Prabowo Subianto. (dok bhirawa)

SURABAYA, PustakaJC.co - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan Indonesia kembali mencapai swasembada beras dalam acara Panen Raya dan Pencanangan Swasembada Pangan di Karawang, Jawa Barat, Rabu, (7/1/2026).

 

Kegiatan tersebut diikuti seluruh kepala daerah se-Indonesia secara daring. Presiden Prabowo menegaskan, capaian swasembada beras berhasil diraih hanya dalam waktu satu tahun, jauh lebih cepat dari target awal pemerintah. Dilansir dari bhirawaonline.co.id, Kamis, (8/1/3026).

 

Sebagai catatan, Provinsi Jawa Timur menjadi penyumbang produksi padi (gabah) dan beras terbesar secara nasional pada 2025. Jawa Timur mencatat produksi padi sebesar 10,56 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) dan 6,10 juta ton beras, disusul Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah di posisi kedua dan ketiga.

 

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa swasembada beras merupakan tonggak penting bagi kedaulatan dan kemerdekaan bangsa.

 

 

“Tidak ada bangsa yang benar-benar merdeka jika kebutuhan pangannya masih bergantung pada negara lain. Tidak mungkin sebuah bangsa berdiri tegak jika pangannya tergantung pada bangsa lain,” tegas Prabowo.

 

Presiden menjelaskan, target swasembada beras awalnya dipatok dalam jangka waktu empat tahun. Namun berkat konsolidasi kebijakan dan kerja keras seluruh jajaran pemerintah, target tersebut dipercepat menjadi tiga tahun dan akhirnya berhasil dicapai hanya dalam satu tahun.

 

Menurut Prabowo, percepatan ini menjadi bukti kemampuan bangsa Indonesia untuk berdiri di atas kaki sendiri. Ia menilai swasembada beras bukan sekadar capaian angka produksi, melainkan menyangkut harga diri dan kepercayaan diri nasional.

 

Presiden juga menegaskan bahwa capaian tersebut tidak terlepas dari peran besar para petani di seluruh Indonesia yang selama ini menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional. Selain itu, dukungan pemerintah daerah, penyuluh pertanian, serta koordinasi lintas kementerian dan lembaga dinilai menjadi faktor kunci keberhasilan kebijakan pangan nasional.

 

 

Pemerintah, lanjut Prabowo, berkomitmen tidak hanya mempertahankan swasembada beras, tetapi juga meningkatkannya dari tahun ke tahun. Tantangan seperti perubahan iklim dan cuaca ekstrem diakui tetap ada, namun akan diantisipasi melalui penguatan produksi, ketersediaan sarana pertanian, serta perlindungan lahan pangan berkelanjutan.

 

Prabowo menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa swasembada beras menjadi langkah awal menuju swasembada komoditas pangan strategis lainnya, seperti jagung dan komoditas penting nasional lainnya.

 

Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari yang mengikuti acara secara daring menyampaikan bahwa dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari pemerintah pusat sangat membantu petani dalam meningkatkan produksi secara cepat.

 

Ia mengapresiasi perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap sektor pertanian, termasuk kebijakan yang berdampak langsung pada kesejahteraan petani di daerah.

 

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas berbagai kebijakan dan bantuan yang sangat dirasakan manfaatnya oleh petani, mulai dari kenaikan HPP gabah, penurunan harga pupuk subsidi, hingga bantuan alsintan modern,” ujar Ning Ita, sapaan akrab Wali Kota Mojokerto.

 

 

 

Ia menjelaskan, kebijakan penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah oleh Bulog memberikan kepastian harga bagi petani. Jika sebelumnya harga gabah berkisar Rp5.000 hingga Rp6.000 per kilogram, kini ditetapkan minimal Rp6.500 per kilogram.

 

Selain itu, penurunan harga pupuk subsidi sekitar 20 persen turut meringankan biaya produksi pertanian. Di Kota Mojokerto, harga pupuk urea turun dari Rp2.250 menjadi Rp1.800 per kilogram, pupuk NPK dari Rp2.300 menjadi Rp1.840, pupuk ZA dari Rp1.700 menjadi Rp1.360, serta pupuk organik dari Rp800 menjadi Rp640 per kilogram.

 

Sementara itu, Bupati Madiun H. Hari Wuryanto menyatakan dukungan penuh terhadap komitmen Presiden Prabowo dalam menjaga keberlanjutan swasembada pangan nasional. Kabupaten Madiun sendiri tercatat berada di peringkat ketujuh produksi padi di Jawa Timur.

 

“Ke depan, kerja sama dan kolaborasi dengan para petani serta seluruh komponen harus terus ditingkatkan agar swasembada pangan ini tetap terjaga,” ujar Bupati yang akrab disapa Mas Hari.

 

 

 

Pada kesempatan tersebut turut hadir Danrem 081/DSJ Kolonel Arm. Untoro Hariyanto, unsur Forkopimda, staf ahli bupati, para asisten Sekda, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Madiun, serta sejumlah gabungan kelompok tani (Gapoktan).

 

Sekretaris Daerah Kabupaten Gresik Achmad Washil Miftahul Arief menambahkan bahwa swasembada pangan merupakan prioritas nasional yang harus didukung secara kolaboratif dari pusat hingga desa.

 

Menurutnya, pertanian modern berbasis alat dan teknologi menjadi kunci peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani. Ia mencontohkan penerapan irigasi perpipaan di Bawean yang memanfaatkan Danau Kastoba dan sejumlah mata air, sehingga mampu meningkatkan intensitas tanam dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali panen dalam setahun.

 

“Sinergi pusat hingga desa harus terus diperkuat agar program pemerintah benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pungkasnya. (ivan)