Bahlil Tawarkan Mineral Kritis RI ke Jepang, Kerja Sama Nuklir Ikut Dibahas

parlemen | 16 Maret 2026 16:25

Bahlil Tawarkan Mineral Kritis RI ke Jepang, Kerja Sama Nuklir Ikut Dibahas
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (kiri) dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang, Ryosei Akazawa (kanan) menandatangani Memorandum of Cooperation (MoC) sektor mineral kritis dan energi nuklir di Tokyo, Jepang. (dok kompas)

JAKARTA, PustakaJC.co – Pemerintah Indonesia dan Jepang sepakat memperkuat kolaborasi di sektor energi, terutama pada pengelolaan mineral kritis dan pengembangan teknologi energi nuklir. Kerja sama ini ditujukan untuk meningkatkan ketahanan energi sekaligus mendukung transisi menuju energi bersih di kawasan.

 

 

Kesepakatan tersebut tercapai dalam pertemuan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Ryosei Akazawa di sela forum Indo-Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3/2026).

 

 

Dalam pertemuan tersebut, kedua negara menandatangani Memorandum of Cooperation (MoC) yang mencakup kerja sama pengembangan mineral kritis serta energi nuklir. Kolaborasi ini diharapkan mampu membangun sistem energi yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan di kawasan Asia-Pasifik. Demikian dilansir dari money.kompas.com, senin, (16/3/2026). 

 

 

Bahlil menyampaikan Indonesia membuka peluang bagi pemerintah maupun pelaku usaha Jepang untuk terlibat dalam pengelolaan mineral kritis yang dimiliki Indonesia. Menurutnya, sumber daya tersebut memiliki peran penting dalam pengembangan teknologi energi bersih.

 

 

Indonesia diketahui memiliki sekitar 43 persen cadangan nikel dunia. Selain itu, Indonesia juga menjadi salah satu produsen utama bauksit, timah, dan tembaga, serta memiliki potensi logam tanah jarang yang dibutuhkan dalam industri energi masa depan.

 

 

Kerja sama di sektor mineral kritis ini diarahkan untuk memperkuat rantai pasok global agar lebih aman dan andal. Melalui kolaborasi tersebut, kedua negara berharap pengembangan teknologi energi bersih dapat dipercepat.

 

 

Sementara itu, Akazawa menilai kerja sama energi antarnegara menjadi semakin penting di tengah ketidakpastian geopolitik global. Jepang, kata dia, telah menyiapkan cadangan energi strategis untuk menjaga stabilitas pasokan dalam menghadapi berbagai kemungkinan krisis.

 

 

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Indonesia atas dukungannya terhadap izin ekspor Liquefied Natural Gas (LNG) ke Jepang. Pemerintah Jepang, lanjutnya, berkomitmen melanjutkan berbagai proyek kerja sama energi dengan Indonesia.

 

 

Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah penyelesaian Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Legok Nangka sebagai bagian dari kemitraan strategis kedua negara.

 

 

Selain itu, kerja sama di bidang energi nuklir akan difokuskan pada pengembangan teknologi dengan tetap mengedepankan standar keselamatan tinggi. Indonesia diharapkan dapat memanfaatkan pengalaman dan teknologi Jepang dalam pengembangan solusi energi rendah karbon.

 

 

Ke depan, kedua negara juga akan memperkuat kerja sama dalam rantai pasok LNG dan batu bara, serta mempercepat proyek transisi energi melalui kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC). Beberapa proyek yang masuk dalam agenda tersebut antara lain operasional Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Sarulla dan penyelesaian PLTSa Legok Nangka. 

 

 

Kolaborasi energi Indonesia dan Jepang ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi sekaligus mendukung upaya dekarbonisasi di kawasan Indo-Pasifik. (frcn)