Khofifah menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Maroko bukanlah hubungan yang baru. Menurutnya, kedekatan historis kedua negara telah terjalin sejak Konferensi Asia Afrika dan menjadi modal penting untuk memperkuat kemitraan di berbagai sektor.
“Kerja sama antara Indonesia dan Maroko ini sangat lama sejak dilaksanakannya Konferensi Asia Afrika. Betapa bahwa antara Maroko dan Indonesia sama-sama harus bergandengan tangan untuk bisa mendapatkan kedaulatan yang lebih substantif dari kemerdekaan yang sudah kita peroleh. Oleh karena itu, Presiden Soekarno juga tahun 60 ke Kerajaan Maroko,” tutur Khofifah.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga menyoroti sejarah panjang dunia pendidikan di Maroko, khususnya keberadaan Universitas Al-Qarawiyyin yang didirikan oleh Fatima Al-Fihri. Ia menilai tokoh perempuan tersebut menjadi inspirasi penting dalam pengembangan pendidikan sekaligus pemberdayaan perempuan.
“Perempuan Maroko itu sudah punya intelektualitas yang cukup tinggi. Dari warisan kekayaan yang luar biasa, dedikasinya adalah mendirikan masjid dan kemudian mendirikan perguruan tinggi yang memiliki sejarah sangat kuat. Jadi, pemberdayaan perempuan di sektor pendidikan di Maroko sesungguhnya sudah sangat maju sekali,” ucapnya.