Struktur perekonomian Jawa Timur ditopang sektor industri pengolahan sebesar 31,11 persen, perdagangan 18,22 persen, dan pertanian 11,20 persen.
Kinerja perdagangan Jawa Timur juga menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, neraca perdagangan Jawa Timur mencatat surplus Rp210,1 triliun. Sementara pada Semester I 2026, surplus perdagangan mencapai Rp100,35 triliun.
Khofifah mengatakan perdagangan antarwilayah menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat integrasi ekonomi nasional.
“Kekuatan ekonomi daerah tidak dapat dibangun sendiri karena setiap daerah memiliki keunggulan, kebutuhan, dan potensi yang saling melengkapi. Perdagangan antarwilayah menjadi sangat penting sebagai salah satu fondasi integrasi ekonomi nasional,” jelasnya.
Berdasarkan data Perdagangan Antarwilayah Indonesia Tahun 2024, total perdagangan antarwilayah Jawa Timur mencapai Rp333,83 triliun. Besarnya arus perdagangan tersebut menggambarkan kebutuhan bahan baku, energi, serta berbagai komoditas untuk menopang aktivitas industri, manufaktur, perdagangan, dan konsumsi di Jawa Timur.
“Pada posisi ini, misi dagang menjadi instrumen strategis. Kita ingin mempertemukan daerah yang memiliki komoditas dengan daerah yang membutuhkan pasokan, memperpendek rantai distribusi, memperluas pasar produk unggulan, sekaligus memperkuat penggunaan produk dalam negeri,” terangnya.