Sekolah di Surabaya Masih Terapkan Dua Shift, Dispendik Siapkan Renovasi 15 SD Tahun Ini

pendidikan | 26 Agustus 2025 19:40

Sekolah di Surabaya Masih Terapkan Dua Shift, Dispendik Siapkan Renovasi 15 SD Tahun Ini
Ilustrasi kegiatan belajar mengajar di kelas. Dinas Pendidikan Surabaya kesulitan menambah kelas karena kesulitan lahan. . (dok jawapos)

SURABAYA, pustakaJc.co - Banyak siswa SD negeri di Surabaya masih harus belajar dengan sistem dua shift karena keterbatasan ruang kelas. Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya menargetkan renovasi 15 sekolah pada 2025  untuk mengatasi persoalan tersebut.

Keterbatasan lahan membuat sejumlah SD negeri di Surabaya belum bisa menampung seluruh rombongan belajar (rombel) dalam satu waktu. Akibatnya, sekolah terpaksa menerapkan sistem dua shift, yakni pagi dan siang. Dilansir dari jawapos.com, Selasa, (26/8/2025).

Salah satunya dialami SDN Gunung Anyar Tambak, Jalan Wiguna Timur, Gunung Anyar. Meski sudah memiliki bangunan dua lantai, jumlah ruang kelas tetap tidak cukup.

“Walau (SD) sudah dua lantai, tapi belum cukup menampung seluruh rombel pada satu waktu. Akibatnya, pemakaian kelas harus bergantian, pagi dan siang,” kata Ajeng Wira Wati, anggota Komisi D DPRD Surabaya, Selasa, (26/8/2025).

Ajeng menilai sistem ini mengganggu proses belajar, terutama bagi siswa yang masuk siang.

“Anak harus belajar dari siang hingga sore. Akibatnya waktu untuk istirahat atau mengikuti kegiatan tambahan jadi terbatas,” ujarnya.

Selain itu, orang tua juga merasa keberatan. “Idealnya semua kelas belajar pagi hari. Itu lebih nyaman, baik bagi siswa maupun orang tua. Orang tua bisa mengantar anak pagi hari, lalu melanjutkan ke kantor tanpa harus bolak-balik,” tambah Ajeng yang juga Ketua Fraksi Gerindra DPRD Surabaya.

Menanggapi hal ini, Kepala Dispendik Surabaya Yusuf Masruh mengakui akses lahan menjadi kendala utama penambahan ruang kelas.

“Lokasi pembangunan tidak memiliki lahan kosong. Secara otomatis perluasan bangunan tidak bisa dilakukan. Solusinya adalah pembangunan vertikal,” jelas Yusuf.

Selain lahan, akses jalan sempit juga menyulitkan pengiriman material.

 “Apalagi kalau sekolah berada di permukiman padat penduduk. Walaupun tidak semua, namun banyak warga yang merasa terganggu atas aktivitas renovasi bangunan,” imbuhnya.

Meski begitu, Yusuf memastikan Dispendik terus mencari solusi terbaik. Salah satunya dengan memanfaatkan kelas yang jam belajarnya lebih singkat, seperti kelas 1 dan 2, agar bisa bergantian dengan rombel lain.

“Tahun ini ada 15 SDN yang akan direnovasi. Mulai dari renovasi kecil hingga penambahan ruang kelas,” tegas Yusuf.

Dengan renovasi bertahap, Pemkot Surabaya berharap persoalan ruang kelas dapat segera teratasi. Sehingga, seluruh siswa bisa kembali belajar di pagi hari tanpa harus bergantian shift. (ivan)