Enam Bahasa Asing Bakal Diajarkan di Sekolah Rakyat, Gus Ipul: Bekal untuk SDM Unggul dan Siap Bersaing Global

pendidikan | 05 November 2025 07:40

Enam Bahasa Asing Bakal Diajarkan di Sekolah Rakyat, Gus Ipul: Bekal untuk SDM Unggul dan Siap Bersaing Global
Dok pustakaJC

SURABAYA, PustakaJC.co – Sebuah langkah baru digagas pemerintah untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Kementerian Sosial (Kemensos) bersama Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) sepakat memasukkan enam bahasa asing ke dalam kurikulum Sekolah Rakyat. 

 

Upaya ini disebut sebagai bentuk kesiapan menghadapi tantangan global dan memperluas peluang kerja warga negara Indonesia ke luar negeri.

 

Menteri P2MI Mukhtarudin mengatakan, keenam bahasa tersebut adalah Inggris, Arab, Jepang, Korea, Mandarin, dan Jerman. Enam bahasa ini dipilih berdasarkan kebutuhan pasar tenaga kerja internasional. “Kalau untuk kebutuhan pasar luar negeri ya, paling tidak kita petakan dulu bahasanya. Ini yang kita persiapkan sebagai bagian dari peningkatan kualitas SDM,” ujarnya di Kantor P2MI, dilansir Rabu (5/11/2025).

 

Mukhtarudin menambahkan, kemampuan berbahasa asing akan menjadi nilai tambah besar bagi calon pekerja migran. Selain untuk komunikasi, hal ini juga menjadi bentuk kesiapan mental dan profesionalisme tenaga kerja Indonesia di kancah global.

 

Bahkan, ia menyebut Presiden Prabowo Subianto telah memberi arahan agar bahasa Portugis turut dipertimbangkan sebagai tambahan pelajaran di masa mendatang, seiring meningkatnya permintaan tenaga kerja dari negara-negara Eropa Barat dan Timur.

 

Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyebut pengajaran bahasa asing di Sekolah Rakyat merupakan bagian dari misi besar membangun SDM unggul dan berdaya saing tinggi. “Khususnya bagi yang ingin bekerja di luar negeri, tentu akan ada pendidikan tambahan, terutama di bidang bahasa. Dalam hal ini, koordinasi dengan Kementerian P2MI sangat penting,” ungkapnya.

 

Ia juga menegaskan, meski bahasa asing menjadi bekal penting, bahasa Indonesia dan bahasa daerah tetap harus diprioritaskan sebagai identitas nasional dan alat pemersatu bangsa. “Anak-anak kita boleh belajar banyak bahasa dunia, tapi jangan sampai kehilangan bahasa ibu dan rasa cinta tanah air,” pesannya.

 

Gus Ipul bahkan menyarankan agar daftar bahasa asing yang diajarkan dapat diperluas ke bahasa Belanda, Rusia, dan Yunani sebagai alternatif bagi siswa yang tertarik pada bidang akademik, pariwisata, atau diplomasi.

 

Langkah penguatan kemampuan bahasa ini akan diikuti dengan pelatihan dan sertifikasi keterampilan kerja agar siswa tidak hanya fasih berbicara, tetapi juga kompeten dalam bidang profesinya. Mukhtarudin menjelaskan, pemerintah ingin menghubungkan antara pelatihan, sertifikasi, dan penempatan kerja agar program berjalan terarah.

 

“Antara pelatihan, sertifikasi, dan penempatan itu nanti harus jadi satu rangkaian. Jadi tidak parsial. Yang dilatih siapa, kompetensinya apa, ditempatkan di negara mana, itu semua kita bicarakan teknisnya,” ujarnya.

 

Program ini diharapkan menjadi fondasi baru Sekolah Rakyat dalam membangun generasi muda yang tidak hanya cerdas akademik, tapi juga siap menembus pasar global dengan kemampuan bahasa dan keterampilan yang mumpuni. (int)