SURABAYA, PustakaJC.co – Upaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam meningkatkan kesejahteraan guru honorer terus diperkuat melalui Program Terapan Ekonomi Guru (PROTEG). Program yang digagas Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim ini terbukti mendorong kemandirian ekonomi guru honorer melalui pengembangan berbagai unit usaha produktif.
Sebagai bentuk apresiasi dan evaluasi, Dindik Jatim menggelar kegiatan Sharing and Gathering: Inspirasi dan Kolaborasi Usaha Guru Honorer di Van Der Man Coffee, Kota Malang. Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus pengakuan atas kerja keras para guru honorer yang berhasil mengembangkan usaha secara berkelanjutan. Dilansir dari bhirawaonline.co.id, Jumat, (6/2/2026).
Berdasarkan data Dindik Jatim, rata-rata pendapatan usaha peserta PROTEG menunjukkan hasil positif. Guru honorer kelas C mencatat pendapatan rata-rata Rp10.488.066, kelas A sebesar Rp7.304.234, dan kelas B mencapai Rp6.893.050.
Melalui PROTEG, sebanyak 30 guru honorer tercatat sukses menjalankan usaha di berbagai sektor, mulai dari kuliner, percetakan, permainan anak, tata busana, jasa pendidikan, hingga industri kreatif. Seluruh unit usaha tersebut telah dilengkapi legalitas, sehingga memiliki kepastian hukum dan peluang pengembangan di masa depan.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menegaskan bahwa PROTEG dirancang sebagai solusi konkret atas tantangan kesejahteraan guru honorer.
“PROTEG bukan sekadar program, tetapi wujud kepedulian nyata. Kita melihat langsung guru-guru honorer kini mampu berdiri mandiri secara ekonomi, dengan usaha yang legal dan berkelanjutan,” ujar Aries, Kamis, (5/2/2026).
Ia menambahkan, keberhasilan PROTEG tidak lepas dari kolaborasi antara Dindik Jatim dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), khususnya dalam pendampingan kewirausahaan.
“Ketika kesejahteraan guru terjaga, semangat mengajar ikut meningkat. Inilah pendidikan berdampak yang kita bangun untuk masa depan Jawa Timur,” imbuhnya.
Pada puncak acara, Dindik Jatim memberikan apresiasi kepada 30 guru honorer pelaku usaha terbaik. Salah satunya Aryo Saputro Panji Rianto, guru SMA Negeri 3 Malang sekaligus pemilik Coffee Mbah. Usahanya yang sempat terhenti akibat pandemi kini kembali bangkit setelah mengikuti PROTEG pada 2025.
Saat ini, produk kopi Aryo telah memasok ke 20 coffee shop di berbagai kota, serta mengembangkan usaha parfum daring dengan omzet mencapai Rp10 juta per minggu.
“Kegagalan bukan akhir, tetapi jeda untuk bangkit lebih kuat,” ujarnya.
PROTEG juga mendorong pengembangan usaha berbasis jasa pendidikan. Farah, guru SMK 5 Taruna Kediri, memilih mengembangkan usaha bimbingan belajar yang menyesuaikan minat dan potensi siswa. Kini, ia membimbing hampir 50 siswa dengan omzet bulanan sekitar Rp6 juta.
Pendamping usaha PROTEG dari ITS, M. Zainul Asrori, menekankan bahwa perubahan pola pikir menjadi kunci utama keberhasilan program.
“Sebelum bekal teknis, yang dibangun adalah growth mindset. Ketika mindset berubah, kemampuan teknis akan mengikuti,” jelasnya.
Menurutnya, keunikan guru honorer terletak pada nilai dan dampak sosial yang mereka bawa dalam setiap usaha. Mereka tidak hanya menjual produk, tetapi juga membangun kebermanfaatan.
“PROTEG membuktikan, ketika guru honorer diberi pendampingan dan ekosistem yang tepat, mereka mampu menjadi wirausahawan tangguh tanpa kehilangan jati diri sebagai pendidik,” pungkasnya.
Melalui PROTEG, Dindik Jatim menegaskan komitmennya menjadikan guru honorer tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga bagian dari penggerak ekonomi kreatif daerah. (ivan)