JAKARTA, PustakaJC.co – Krisis inovasi dan lemahnya kultur pendidikan menjadi penyebab utama stagnasi sejumlah sekolah di Indonesia. Kondisi ini berdampak langsung pada menurunnya prestasi hingga kepercayaan masyarakat.
Akademisi dari Universitas Negeri Semarang, Edi Subkhan, menegaskan bahwa inovasi merupakan faktor kunci dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, baik di ranah akademik maupun nonakademik. Dilansir dari nu.or.id, Selasa, (28/4/2026).
“Inovasi tidak hanya datang dari guru, tetapi juga kreativitas siswa sebagai bagian dari proses belajar yang serius,” ujarnya, Selasa, (28/4/2026).
Menurutnya, stagnasi sekolah tidak hanya tercermin dari capaian nilai, tetapi juga dari kultur yang gagal berkembang. Lingkungan belajar yang tidak kondusif justru melemahkan daya tarik sekolah di mata masyarakat.
Ia menekankan, kultur yang kuat—berbasis adab, akhlak, dan perilaku—dapat menjadi nilai lebih yang menentukan pilihan orang tua.
Sebaliknya, citra negatif seperti tawuran, geng pelajar, dan perundungan justru mempercepat penurunan kepercayaan publik terhadap sekolah.
Edi menjelaskan, pertimbangan orang tua dalam memilih sekolah bersifat subjektif. Sebagian mengutamakan aspek akademik untuk menunjang studi lanjut, sementara yang lain lebih fokus pada pembentukan karakter dan pengembangan minat bakat.
Meski demikian, faktor fasilitas tetap menjadi kebutuhan dasar. Sekolah dengan sarana memadai cenderung lebih diminati dibandingkan yang minim dukungan.
Ia juga mengingatkan bahwa reputasi historis tidak cukup untuk mempertahankan eksistensi sekolah. Tanpa inovasi dan penguatan kultur, sekolah berisiko tertinggal dari lembaga lain yang lebih adaptif.
“Banyak sekolah dengan sejarah besar justru kalah bersaing karena tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman,” tegasnya.
Dalam konteks kelembagaan, stagnasi sekolah swasta lebih dipengaruhi oleh kualitas internal dan ketatnya persaingan. Sementara itu, sekolah negeri dinilai menghadapi keterbatasan inovasi akibat regulasi dan sistem pendanaan yang relatif kaku.
Di tengah tuntutan era digital, ia juga menyoroti pentingnya transformasi teknologi dalam pendidikan. Namun, digitalisasi tidak bisa dilakukan secara instan tanpa kesiapan infrastruktur dan literasi digital.
“Digitalisasi bukan sekadar menyediakan perangkat atau sistem, tetapi memastikan seluruh komponen sekolah siap menggunakannya,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa inovasi yang dibutuhkan tidak hanya bersifat teknis, melainkan menyentuh aspek mendasar seperti visi, kultur, sistem, dan manajemen sekolah.
Pimpinan lembaga pendidikan pun dituntut memiliki kejelian dalam membaca peluang, membangun jejaring, serta menciptakan kolaborasi strategis.
Sebagai langkah awal, Edi menyarankan sekolah melakukan analisis SWOT untuk memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang dihadapi.
Selain itu, penguatan jaringan alumni, peningkatan profesionalitas guru, serta perhatian terhadap kesejahteraan tenaga pendidik menjadi faktor penting dalam mendorong kemajuan sekolah.
“Kesejahteraan guru sangat berpengaruh terhadap kinerja dan kualitas pembelajaran,” pungkasnya. (ivan)