Menag Dorong Madrasah Jadi Pusat Lahirnya Generasi Pembangun Peradaban

pendidikan | 25 Juli 2026 19:34

Menag Dorong Madrasah Jadi Pusat Lahirnya Generasi Pembangun Peradaban
Kawah Candradimuka Peradaban. (dok kemenag)

JAKARTA, PustakaJC.co – Menteri Agama RI Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA menegaskan madrasah harus menjadi pusat lahirnya generasi pembelajar, peneliti, inovator, dan pemimpin yang mampu membangun peradaban baru di Indonesia. Gagasan tersebut disampaikan melalui tulisan bertajuk Madrasah, Kawah Candradimuka Peradaban yang dipublikasikan, Sabtu, (25/7/2026).

 

Menurut Menag, peradaban besar tidak lahir hanya dari tradisi membaca. Budaya membaca harus berkembang menjadi kemampuan berpikir kritis, melakukan penelitian, melahirkan inovasi, hingga menghasilkan kemaslahatan bagi masyarakat. Dilansir dari antaranews.com, Sabtu, (25/7/2026).

 

“Madrasah harus menjadi kawah candradimuka, tempat menempa generasi pembelajar, peneliti, penulis, inovator, sekaligus pemimpin masa depan,” tulis Nasaruddin.

 

 

Ia menjelaskan sejarah kejayaan peradaban Islam menjadi bukti bahwa kemajuan suatu bangsa dibangun melalui budaya membaca, menulis, menerjemahkan, meneliti, dan berdialog dengan berbagai disiplin ilmu. Ekosistem tersebut, kata dia, didukung oleh negara, ulama, lembaga pendidikan, serta masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan.

 

Dalam konteks saat ini, Menag menilai literasi memiliki makna yang lebih luas dibanding sekadar kemampuan membaca buku. Literasi mencakup kemampuan memahami perubahan zaman, mengolah informasi, berpikir kritis, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

 

Karena itu, ia mendorong agar budaya literasi di madrasah tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Perpustakaan, ruang diskusi, penelitian, penulisan karya ilmiah, dan kolaborasi harus menjadi bagian dari aktivitas keseharian warga madrasah.

 

Menag juga menyoroti perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, peserta didik madrasah harus mampu menguasai ilmu agama sekaligus memahami perkembangan ilmu pengetahuan, media digital, data, dan teknologi modern.

 

Ia menegaskan AI bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi juga tidak boleh diterima tanpa sikap kritis. Peran manusia tetap menjadi penentu melalui akal, hati nurani, dan etika.

 

 

 

Selain itu, Menag mengingatkan tantangan terbesar di era digital bukan lagi terbatasnya akses informasi, melainkan kemampuan membedakan fakta dan hoaks, ilmu dan opini, serta kebenaran dan manipulasi. Oleh sebab itu, literasi harus berjalan beriringan dengan pembentukan akhlak yang mulia.

 

Nasaruddin menambahkan keberhasilan literasi tidak diukur dari banyaknya buku yang dibaca, melainkan dari banyaknya gagasan, penelitian, karya, inovasi, dan solusi yang dihasilkan bagi masyarakat.

 

Ia optimistis ruang-ruang kelas madrasah akan melahirkan generasi yang tidak hanya mampu membaca perkembangan dunia, tetapi juga menulis masa depan Indonesia dengan berbekal nilai-nilai agama, penguasaan ilmu pengetahuan, kemampuan beradaptasi terhadap teknologi, dan komitmen menghadirkan kemaslahatan bagi kemanusiaan. (ivan)