Hadapi Perubahan Zaman Khofifah Minta Pelajar Terus Berinovasi

pendidikan | 03 Agustus 2026 18:42

Hadapi Perubahan Zaman Khofifah Minta Pelajar Terus Berinovasi
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat meninjau area budidaya tanaman dalam Program Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan (SIKAP) di SMA Taruna Nala Kota Malang. (dok antara)

MALANG, PustakaJC.co – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak para pelajar untuk terus mengembangkan kemampuan beradaptasi dan berinovasi dalam menghadapi pesatnya perkembangan teknologi digital, termasuk kemunculan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang diproyeksikan mengubah berbagai aspek kehidupan di masa depan.

 

Menurut Khofifah, perubahan teknologi tidak hanya memengaruhi cara belajar, tetapi juga cara bekerja, berkomunikasi, hingga menyelesaikan berbagai persoalan di tengah masyarakat. Karena itu, generasi muda perlu dipersiapkan sejak dini agar mampu menjadi bagian dari solusi sekaligus penggerak pembangunan bangsa. Dilansir dari antaranews.com, Senin, (3/8/2026).

 

“Anak-anak harus dibiasakan untuk dapat berinovasi, bagaimana bersikap dan mencari sebuah solusi dari permasalahan yang dihadapi. Pada 2030 diprediksi 39 persen keterampilan utama di dunia kerja juga akan berubah,” kata Khofifah dalam keterangan resmi yang diterima di Malang, Senin, (3/8/2026).

 

 

Ia menegaskan, peningkatan kompetensi generasi muda menjadi kunci untuk menghadapi tantangan pembangunan di era transformasi digital. Pelajar tidak cukup hanya menguasai teori, tetapi juga dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, mampu berkolaborasi, dan memanfaatkan teknologi secara produktif.

 

Khofifah mengutip data Global Innovation Index 2024 yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke-54 dari 133 negara. Posisi tersebut masih berada di bawah Malaysia yang menempati peringkat ke-33 dan Singapura di posisi keempat dunia.

 

Menurutnya, capaian tersebut harus menjadi pemacu semangat bagi seluruh elemen pendidikan untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

 

“Posisi ini harus menjadi motivasi bersama agar semua memiliki semangat yang sama untuk memacu ketertinggalan. Anak-anak kita harus dibekali dan disiapkan untuk menjadi Generasi Emas 2045,” ujarnya.

 

 

Selain kualitas sumber daya manusia, Indonesia juga memiliki modal besar berupa bonus demografi. Berdasarkan Data Kependudukan Bersih Semester II Tahun 2025, jumlah penduduk Indonesia mencapai 288,3 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 69,03 persen atau lebih dari 199 juta jiwa merupakan penduduk usia produktif berusia 15 hingga 64 tahun.

 

Khofifah menilai besarnya populasi usia produktif tersebut menjadi peluang strategis untuk mempercepat transformasi digital nasional apabila dibarengi dengan peningkatan kompetensi yang memadai.

 

“Potensi ini menjadikan generasi milenial dan Gen Z sebagai motor untuk mengadaptasi digitalisasi,” katanya.

 

Dalam kesempatan itu, Khofifah juga mengapresiasi pelaksanaan Program Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan (SIKAP) di SMA Taruna Nala Kota Malang. Program tersebut dinilai mampu menanamkan budaya inovasi kepada peserta didik melalui kegiatan budidaya tanaman pangan dan peternakan di lingkungan sekolah.

 

Menurutnya, program tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan kepada peserta didik, tetapi juga membangun karakter, kepedulian terhadap lingkungan, serta menumbuhkan semangat kemandirian dan ketahanan pangan sejak usia sekolah.

 

“Program SIKAP ini mengajarkan tidak hanya pendidik dan tenaga kependidikan, tetapi juga anak-anak untuk bisa membudidayakan tanaman pangan dan hewan ternak yang dimulai di lingkungan sekolah,” ujar Khofifah.

 

 

 

Gubernur Jawa Timur dua periode itu berharap semakin banyak sekolah yang menghadirkan program inovatif serupa sehingga mampu mencetak lulusan yang adaptif terhadap perkembangan zaman, memiliki daya saing tinggi, sekaligus berwawasan lingkungan.

 

Ia menambahkan, keberhasilan membangun ekosistem pendidikan yang produktif membutuhkan kolaborasi seluruh unsur pendidikan, mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan hingga peserta didik.

 

Dengan sinergi tersebut, sekolah diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter inovatif, tangguh menghadapi perubahan, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045. (ivan)