SURABAYA, PustakaJC.co – Lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) di Jawa Timur didorong untuk memanfaatkan peluang kerja di luar negeri melalui program SMK Go Global yang digagas pemerintah pusat. Jawa Timur mendapat target memberangkatkan 6.880 pekerja migran Indonesia (PMI) pada 2026.
Ketua Tim Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri (P3KLN) BP3MI Jawa Timur Raden Bagus Marseto mengatakan program tersebut menjadi salah satu upaya memperluas kesempatan kerja bagi lulusan SMK. Dilansir dari suarasurabaya.net, Rabu, (19/8/2026).
Program itu juga diharapkan dapat membantu mengurangi angka pengangguran terbuka dari lulusan SMK yang masih menjadi salah satu yang tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2026, tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan SMK mencapai 7,74 persen.
“Dari data statistik, lulusan SMK penyumbang pengangguran terbanyak. Untuk mengatasi hal tersebut, dibuatlah SMK Go Global. Di sisi lain, memang SMK itu kan dipersiapkan untuk bekerja. Nah, ini kita coba untuk meningkatkan,” ujar Marseto, Rabu, (19/8/2026).
Untuk mengikuti program tersebut, lulusan SMK maupun masyarakat umum dapat mengakses informasi melalui laman resmi BP3MI Jawa Timur.
Peserta nantinya mendapatkan pelatihan secara gratis. Pelatihan tersebut meliputi keterampilan teknis, kemampuan bahasa, pemahaman budaya kerja, serta kesiapan menghadapi lingkungan kerja di negara tujuan.
Dalam pelaksanaannya, BP3MI Jawa Timur telah bekerja sama dengan sejumlah lembaga pelatihan yang tersebar di Surabaya, Malang, hingga Gresik.
Pelatihan menggunakan sistem berbasis kebutuhan atau demand-driven. Dengan demikian, materi dan keterampilan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan tenaga kerja di negara tujuan.
Sejumlah sektor pekerjaan yang menjadi sasaran antara lain caregiver, welder, industrial, hingga hospitality.
Negara tujuan yang menjadi perhatian dalam program tersebut di antaranya Jepang, Korea Selatan, Turki, dan Jerman. Lembaga vokasi di Jawa Timur juga didorong memastikan peserta memiliki kompetensi sesuai standar yang ditetapkan masing-masing negara.
Marseto menjelaskan kebutuhan tenaga kerja di sejumlah negara semakin terbuka seiring meningkatnya populasi lanjut usia dan kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor.
“Di luar negeri saat ini posisinya sedang aging population. Orang-orang sudah berumur, kemudian pabriknya tetap harus bergerak, rumah sakitnya tetap harus beroperasi, restoran-restoran harus ada sentuhan manusianya,” jelasnya.
Meski telah menyelesaikan pelatihan, peserta tidak otomatis langsung diberangkatkan ke luar negeri. Mereka harus mengikuti proses job matching dengan perusahaan dari negara tujuan.
BP3MI Jawa Timur memastikan tetap memberikan pendampingan kepada peserta, termasuk memberikan akses informasi mengenai lowongan pekerjaan dan proses penempatan apabila belum berhasil dalam proses job matching pertama.
Pemerintah menargetkan program SMK Go Global dapat memberangkatkan 40.000 pekerja migran secara nasional pada 2026. Dari jumlah tersebut, Jawa Timur memperoleh target sebanyak 6.880 PMI.
“Jawa Timur kita dapat target 6.880. Jadi tahun ini seluruh Indonesia itu 40.000. Kalau tahun depan rencananya 140.000,” pungkas Marseto.
Program tersebut diharapkan menjadi salah satu jalur bagi lulusan SMK untuk memperoleh kesempatan kerja yang lebih luas sekaligus meningkatkan kompetensi tenaga kerja Jawa Timur agar mampu bersaing di pasar kerja internasional. (ivan)