JAKARTA, PustakaJC.co – Kementerian Sosial (Kemensos) memperkuat tata kelola komunikasi publik Program Sekolah Rakyat melalui Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif (LENSA SR).
Pengembangan LENSA SR dilakukan menyusul tingginya kebutuhan masyarakat terhadap informasi mengenai Sekolah Rakyat. Hingga Mei 2026, tercatat 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial Kemensos. Sebagian besar berkaitan dengan lokasi, jadwal, dan ketersediaan Sekolah Rakyat. Dilansir dari jatimpos.co, Senin, (31/8/2026).
Data tersebut menjadi salah satu dasar Kemensos membangun sistem informasi yang mampu mengintegrasikan berbagai sumber data dari pusat hingga daerah.
Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman Taufik, mengatakan LENSA SR diharapkan dapat memastikan masyarakat memperoleh informasi yang valid dan cepat sekaligus mengurangi penyebaran informasi yang tidak benar.
“Dengan adanya LENSA SR, segala informasi yang berkaitan dengan Sekolah Rakyat dapat terintegrasi dengan baik dari pusat hingga daerah. Sehingga masyarakat mudah mendapatkan informasi yang valid, cepat dan terhindar dari narasi hoaks di media sosial,” kata Fatkhurohman dalam keterangan tertulis, Minggu, (30/8/2026).
Melalui mekanisme tersebut, informasi mengenai Sekolah Rakyat dihimpun dari berbagai kanal. Di antaranya media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra/Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah hingga informasi lapangan.
Informasi yang terkumpul kemudian dikonfirmasi kepada PIC atau unit pemilik substansi. Tahapan ini dilakukan untuk memastikan data yang digunakan akurat, terbaru, terkonfirmasi dan dapat dipertanggungjawabkan.
Setelah melalui proses validasi, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons sesuai kebutuhan.
LENSA SR memiliki enam tahapan utama, yakni penangkapan dan klasifikasi isu serta narasi, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi respons dan narasi, serta pemantauan dan pembelajaran organisasi.
Penguatan tata kelola komunikasi tersebut juga telah memasuki tahap implementasi. Kemensos menyusun Nota Dinas Sekretaris Jenderal Nomor 3240/1/HM.01.03/8/2026 tentang Rekomendasi Isu dan Respons Komunikasi Sekolah Rakyat pada 27 Agustus 2026.
Nota dinas tersebut memuat sejumlah isu prioritas, rujukan informasi yang telah dikonfirmasi, tingkat risiko isu, serta arahan penggunaan FAQ dan narasi yang sama.
Dokumen itu kemudian disampaikan kepada unit pusat, Balai Besar, Sentra Terpadu/Sentra, serta kepala Sekolah Rakyat sebagai rujukan bersama.
Dalam penerapannya, terdapat lima hal yang menjadi perhatian utama, yakni ketepatan dan kemutakhiran data, kecepatan konfirmasi substansi, konsistensi informasi antarunit dan antarkanal, keamanan publikasi anak dan keluarga rentan, serta pencatatan tindak lanjut isu.
Perlindungan anak menjadi salah satu aspek penting dalam komunikasi Sekolah Rakyat. Kemensos mengarahkan setiap materi publikasi agar menerapkan prinsip data-safe dan child-safe, termasuk menghindari pengungkapan kerentanan maupun identitas sensitif anak.
Respons terhadap isu juga akan disesuaikan berdasarkan tingkat risikonya. Isu ringan dapat ditangani melalui jawaban layanan, FAQ, atau koreksi informasi.
Sementara itu, isu berisiko sedang dapat membutuhkan klarifikasi resmi atau konten penjelas yang dikoordinasikan dengan Biro Hubungan Masyarakat. Adapun isu yang menyangkut keselamatan anak, kekerasan, kebocoran data, integritas anggaran, maupun dugaan pelanggaran hukum akan dieskalasikan sesuai kewenangan.
Untuk menjaga keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe.
Seluruh instrumen tersebut dapat diperbarui mengikuti perkembangan isu, aduan masyarakat, pemberitaan, percakapan media sosial, dan informasi dari lapangan.
Sekretaris Jenderal Kemensos Robben Rico berharap LENSA SR nantinya tidak hanya digunakan untuk Program Sekolah Rakyat, tetapi dapat dikembangkan untuk berbagai program layanan Kemensos lainnya.
“Semoga ke depan LENSA SR menjadi rujukan sebagai program layanan informasi terintegrasi, tidak hanya dalam lingkup Sekolah Rakyat, tapi juga program lain seperti PKH, Sembako atau layanan lain di Kemensos. Sehingga semakin banyak masyarakat mendapat kemudahan dalam mengakses informasi dan terhindar dari hoaks,” kata Robben.
Dengan LENSA SR, Kemensos menargetkan pengelolaan informasi Sekolah Rakyat berjalan lebih terintegrasi, terkonfirmasi dan konsisten, sekaligus tetap memperhatikan perlindungan anak serta keluarga rentan. (ivan)