Rini menambahkan, keberadaan fasilitas pendukung seperti Rumah Anak Prestasi (RAP) Nginden menjadi sarana vital dalam menggali potensi dan bakat ABK yang mungkin tidak terlihat saat berada di sekolah umum. Melalui tempat ini, para siswa dapat mengembangkan bakat di bidang seni lukis, musik, hingga keterampilan lainnya tanpa merasa minder.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, menjelaskan bahwa Pemkot Surabaya tidak hanya mengandalkan relawan dari perguruan tinggi, tetapi juga aktif memberikan pelatihan khusus bagi guru-guru yang sudah ada.
"Guru yang mempunyai kecakapan khusus kita latih melalui kerja sama dengan kampus yang memiliki fakultas di bidang penanganan anak disabilitas. Pelatihan ini terus berjalan sampai hari ini," jelas Febrina.
Dalam praktiknya di sekolah reguler, pendampingan siswa inklusi turut melibatkan guru Bimbingan Konseling (BK). Febrina menegaskan bahwa untuk memastikan ketepatan penanganan, proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jalur inklusi mewajibkan adanya rekomendasi tertulis dari psikolog.
"Catatan psikolog ini penting untuk memastikan bahwa anak tersebut masih bisa mengikuti pembelajaran bersama anak-anak reguler tanpa kendala trauma atau tantrum yang berat. Selama kondisi memungkinkan, mereka tetap belajar bersama. Namun jika anak rentan tantrum di keramaian, sekolah menyediakan ruangan khusus dan pendampingan ekstra," pungkasnya. (ivan)