Mu’ti juga mengingatkan para guru agar tidak terlalu menekankan kesalahan tata bahasa ketika siswa mencoba berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris.
Menurutnya, keberanian dan kepercayaan diri siswa dalam menggunakan bahasa asing perlu dibangun sejak dini. Kesalahan dalam menyusun kalimat dinilai sebagai bagian dari proses pembelajaran.
“Salah-salah tidak apa-apa yang penting mereka punya kepercayaan diri untuk menggunakan bahasa itu,” ujarnya.
Pendekatan tersebut juga mempertimbangkan capaian pembelajaran siswa pada jenjang kelas awal SD. Pada kelas 1 hingga kelas 3, fokus pendidikan masih diarahkan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung), serta penguatan literasi dan numerasi.
Karena itu, pembelajaran Bahasa Inggris nantinya perlu disesuaikan dengan perkembangan dan target capaian belajar masing-masing jenjang.
Melalui kebijakan ini, Kemendikdasmen berupaya memperkuat kemampuan komunikasi berbahasa Inggris sejak pendidikan dasar. Kesiapan guru, metode pembelajaran, serta penyesuaian materi menjadi bagian penting dalam pelaksanaan mata pelajaran wajib tersebut mulai tahun ajaran 2027/2028. (ivan)