SURABAYA, PustakaJC.co – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyiapkan pelatihan bagi 100.000 guru untuk mendukung penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar (SD) mulai tahun ajaran 2027/2028.
Kebijakan tersebut akan diterapkan mulai kelas 3 SD dan dilakukan secara bertahap pada setiap angkatan. Persiapan pelatihan guru menjadi salah satu langkah pemerintah untuk memastikan kesiapan tenaga pendidik dalam menjalankan kebijakan tersebut. Dilansir dari kompas.com, Sabtu, (7/11/2026).
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (PAUD, Dikdas, dan PNFI) Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, mengatakan saat ini pihaknya tengah mempersiapkan program pelatihan bagi guru yang akan mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris.
“Saat ini tengah kita siapkan pelatihan untuk guru, targetnya 100.000 guru ya,” kata Gogot di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Jumat, (6/11/2026).
Dia menjelaskan, penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib akan dimulai dari kelas 3 SD. Selanjutnya, kebijakan tersebut diperluas secara bertahap mengikuti setiap angkatan siswa.
“Setiap angkatan untuk menyiapkan dengan mata pelatihan bahasa Inggris wajib di setiap angkatan,” imbuhnya.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti sebelumnya menegaskan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat SD tidak akan berorientasi pada penguasaan tata bahasa atau grammar secara mendalam.
Menurutnya, pembelajaran lebih diarahkan pada kemampuan komunikasi dan keberanian siswa menggunakan Bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan tersebut menempatkan Bahasa Inggris sebagai sarana komunikasi, bukan sekadar materi pengetahuan yang harus dikuasai melalui teori kebahasaan.
“Pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat SD lebih banyak ditekankan pada aspek bagaimana mereka dapat berkomunikasi dengan Bahasa Inggris, bukan Bahasa Inggris sebagai science, tapi Bahasa Inggris sebagai media komunikasi sehingga nanti di tingkat SD itu grammarnya tidak perlu terlalu banyak,” kata Mu’ti.
Mu’ti juga mengingatkan para guru agar tidak terlalu menekankan kesalahan tata bahasa ketika siswa mencoba berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris.
Menurutnya, keberanian dan kepercayaan diri siswa dalam menggunakan bahasa asing perlu dibangun sejak dini. Kesalahan dalam menyusun kalimat dinilai sebagai bagian dari proses pembelajaran.
“Salah-salah tidak apa-apa yang penting mereka punya kepercayaan diri untuk menggunakan bahasa itu,” ujarnya.
Pendekatan tersebut juga mempertimbangkan capaian pembelajaran siswa pada jenjang kelas awal SD. Pada kelas 1 hingga kelas 3, fokus pendidikan masih diarahkan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung), serta penguatan literasi dan numerasi.
Karena itu, pembelajaran Bahasa Inggris nantinya perlu disesuaikan dengan perkembangan dan target capaian belajar masing-masing jenjang.
Melalui kebijakan ini, Kemendikdasmen berupaya memperkuat kemampuan komunikasi berbahasa Inggris sejak pendidikan dasar. Kesiapan guru, metode pembelajaran, serta penyesuaian materi menjadi bagian penting dalam pelaksanaan mata pelajaran wajib tersebut mulai tahun ajaran 2027/2028. (ivan)