Syekh Abdul Hamid Kudus

Ulama Asal Jawa yang Mengajar di Masjidil Haram Diangkat dalam Jalantara 2025

tokoh | 06 Juli 2025 21:15

Ulama Asal Jawa yang Mengajar di Masjidil Haram  Diangkat dalam Jalantara 2025
Arsip foto Syekh Abdul Hamid Kudus bersama ulama di Makkah. (dok nuonline)

JAKARTA, PustakaJC.co – Nama Syekh Abdul Hamid Kudus kembali bersinar dalam kajian keulamaan Nusantara. Ulama asal Kudus, Jawa Tengah, yang menjadi pengajar di Masjidil Haram pada akhir abad ke-19 ini akan menjadi figur utama dalam program “Jelajah Turots Nusantara” atau Jalantara perdana untuk zona Jawa-Madura yang digelar pada Ahad, 13 Juli 2025 di Kudus.

Program ini diinisiasi oleh komunitas Nahdlatut Turots sebagai bagian dari upaya pelestarian dan penelusuran jejak intelektual ulama Nusantara yang pernah berkiprah di Tanah Suci. Dilansir dari nu.or.id, Minggu, (6/7/2025).

“Syekh Abdul Hamid adalah putra Syekh Muhammad Ali Kudus dan cucu Kiai Abdul Qadir Zahid, khatib Masjid Menara Kudus. Meski lahir dan wafat di Makkah, jejak keilmuannya sangat terkait dengan tanah Jawa,” ujar Gus Nanal Ainal Fauz, peneliti Nahdlatut Turots, kepada NU Online, Ahad, (6/7/2025).

Menurutnya, selama ini banyak yang salah sangka bahwa nama “al-Qudsiy” dalam nama Syekh Abdul Hamid merujuk ke Palestina. “Padahal jelas disebutkan dalam muqaddimah kitab Irsyad al-Muhtadi ila Kifayatil Mubtadi, bahwa al-Qudsiy adalah nisbat ke Kudus—dengan dua dhammah—yakni kota terkenal di tanah Jawa,” terang Gus Nanal.

Kitab tersebut merupakan syarah dari Kifayatul Mubtadi, karya ayahnya sendiri. Dari penjelasan itu, terbukti bahwa Syekh Abdul Hamid tidak hanya berdarah Kudus, tetapi juga dengan sadar mengakuinya dalam karya tulisnya.

Tak hanya dikenal di Hijaz, pengaruh Syekh Abdul Hamid juga sampai ke berbagai wilayah di Indonesia. Ia tercatat pernah menjadi guru dari sejumlah ulama besar di Nusantara, seperti:

•Mama Sempur dari Purwakarta,

•Habib Ali Al-Habsyi dari Kwitang, Jakarta,

•Syekh Mukhtar Ath-Tharid dari Bogor,

•Hingga KH Kholil bin Harun dari Kasingan, Rembang.

“Beliau bukan hanya pengajar, tapi juga seorang penulis produktif. Hingga saat ini, kami telah mengidentifikasi 28 kitab karya Syekh Abdul Hamid,” ungkap Gus Nanal.

Di antara karya terkenalnya adalah Kanzu-n-Najah was-Surur, sebuah kitab doa yang memuat amalan-amalan populer, termasuk doa awal dan akhir tahun Hijriyah yang masih sering dibaca di banyak majelis di Indonesia.

Sebagai puncak acara Jalantara Zona Jawa-Madura, Nahdlatut Turots akan meluncurkan hasil tahqiq kitab Fathul Aliyyi-l-Karim, salah satu karya utama Syekh Abdul Hamid yang membahas keutamaan Rasulullah SAW.

Selain itu, akan diterbitkan pula:

•Majmu’ Muallafat (kumpulan karya) Syekh Abdul Hamid dalam versi cetak eksklusif dan terbatas.

•Kitab biografi berjudul Nasmatul Unsi fi Riyadil Qudsi yang disusun oleh Lajnah Turots Ulama Kudus.

“Ini bagian dari gerakan membangun koneksi keilmuan dengan para ulama terdahulu, agar generasi sekarang bisa mengenali akar dan keteladanan intelektualnya,” tambah Gus Nanal.

Syekh Abdul Hamid al-Qudsiy adalah bukti bahwa ulama Nusantara tidak hanya menjadi santri, tapi juga menjadi guru di pusat dunia Islam. Melalui program Jalantara, jejaknya kembali dihidupkan bukan untuk nostalgia, melainkan untuk memperkuat kembali jati diri dan warisan keilmuan Islam di Indonesia. (ivan)