“Ini bagian dari gerakan membangun koneksi keilmuan dengan para ulama terdahulu, agar generasi sekarang bisa mengenali akar dan keteladanan intelektualnya,” tambah Gus Nanal.
Syekh Abdul Hamid al-Qudsiy adalah bukti bahwa ulama Nusantara tidak hanya menjadi santri, tapi juga menjadi guru di pusat dunia Islam. Melalui program Jalantara, jejaknya kembali dihidupkan bukan untuk nostalgia, melainkan untuk memperkuat kembali jati diri dan warisan keilmuan Islam di Indonesia. (ivan)