YOGYAKARTA, PustakaJC.co – Di balik perjalanan panjang birokrasi Kementerian Agama dan dinamika organisasi Muhammadiyah, nama Rosyad Sholeh tak pernah menonjolkan diri, namun jejaknya sangat terasa. Tokoh yang dikenal rendah hati dan pekerja senyap itu wafat pada Rabu, 30 Juli 2025, di Yogyakarta, dalam usia 85 tahun.
Lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 27 Juli 1940, Rosyad Sholeh telah menapaki jalan pengabdian sejak usia muda. Ia menyelesaikan pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah (1953) dan PGAN (1957), lalu melanjutkan ke PHIN Yogyakarta, tamat tahun 1960. Sejak itu pula, ia langsung mengabdi sebagai pegawai negeri di Kementerian Agama—sebuah awal dari karier panjang yang mengakar pada nilai keikhlasan dan profesionalisme. Dilansir dari kemenag.go.id, Jumat, (1/8/2025).
Tahun 1989, ia dilantik menjadi Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama D.I. Yogyakarta. Puncaknya, ia dipercaya sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji di Jakarta, mendampingi Dirjen Drs. H. Amidhan dan Drs. H. Ahmad Ghozali.
Di masa itu, Rosyad Sholeh ikut terlibat dalam upaya merumuskan skema penurunan biaya ONH (Ongkos Naik Haji), salah satu isu sensitif yang penuh tantangan. Meskipun gagasan tersebut belum berhasil diwujudkan, perannya menunjukkan keberanian untuk memperjuangkan kepentingan umat di balik layar, tanpa riuh pemberitaan.
Rosyad bukan tipikal pemimpin yang haus panggung. Ia bekerja rapi, teliti, dan jauh dari hiruk-pikuk popularitas. Rekan-rekannya mengenalnya sebagai sosok santun yang konsisten dan disiplin. Ia adalah penggerak sunyi—diam, tetapi menentukan. Di tangannya, administrasi menjadi alat pelayanan umat, bukan sekadar tumpukan dokumen.
Selepas pensiun dari birokrasi, Rosyad Sholeh justru semakin aktif di Muhammadiyah. Ia merupakan salah satu pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bersama tokoh-tokoh penting seperti Mohamad Djazman Al Kindi dan Sudibyo Markus. Ia menjadi Anggota PP Muhammadiyah sejak 1975, dipercaya sebagai Sekretaris, Wakil Ketua, bahkan Sekretaris Umum hingga 2010. Meski tak lagi menjabat, ia tetap diminta sebagai konsultan amal usaha Muhammadiyah hingga akhir hayatnya.
Tak hanya sebagai pelaksana, Rosyad juga pemikir. Dalam bukunya Manajemen Dakwah Islam, ia menulis bahwa dakwah adalah proses terstruktur, dirancang dengan sadar dan bertujuan mengubah kondisi menjadi lebih baik. Baginya, dakwah tidak bisa dilakukan sambil lalu, tetapi harus dengan sistem kerja yang rapi, efisien, dan kolektif.
Salah satu kutipan paling dalam yang pernah ditulisnya berbunyi:
“Hati ini bukan buku, yang bila usai dibaca bisa langsung ditutup. Tapi kuyakini, ketika langkah sudah kuayunkan, harus mantap.”
Kini langkah itu telah sampai di ujungnya. Tetapi jejak Rosyad Sholeh akan terus menginspirasi—bagi ASN muda, aktivis dakwah, dan siapa pun yang percaya bahwa kerja senyap bisa menjadi cahaya perubahan.
Selamat jalan, Pak Rosyad. Engkau telah menyalakan lilin di tengah gelap, tanpa meminta nama dicatat. Semoga amal baktimu diterima sebagai ibadah terbaik, dan Allah tempatkan engkau di Jannatun Naim. Aamiin. (ivan)