GRESIK, PustakaJC.co - Nama Nyai Ainiyah Yusuf tak terpisahkan dari sejarah dan pertumbuhan Pesantren Mambaus Sholihin, Desa Suci, Kabupaten Gresik. Ia bukan sekadar pendamping KH Masbuhin Faqih, melainkan fondasi keteguhan pesantren yang kini memiliki 10 cabang di berbagai daerah Indonesia.
Lahir pada 30 Oktober 1952, Nyai Ainiyah tumbuh dalam tradisi keilmuan pesantren. Sejak menikah pada 1968, ia setia berkhidmah bersama sang suami, termasuk saat hidup serba terbatas di Pesantren Langitan, Tuban. Ketika KH Masbuhin diperintah gurunya untuk merintis pesantren sendiri, Nyai Ainiyah menjadi penopang utama keluarga. Dilansir dari nu.or.id, Kamis, (8/1/2026).
Saat usaha ekonomi sang suami tak membuahkan hasil, Nyai Ainiyah mengambil peran penuh. Ia berjualan es lilin, nasi bungkus, dan menabung sedikit demi sedikit. Perhiasan hasil jerih payahnya bahkan pernah diserahkan penuh untuk pembebasan lahan pesantren—sebuah kisah yang masyhur di kalangan santri.
Di lingkungan pondok, Nyai Ainiyah dikenal telaten dan disiplin. Ia mengurus kebersihan, menu makan santri, kantin, hingga menjadi imam shalat di pondok putri. Ia juga istiqamah membaca Burdah setiap pagi dan sore, bahkan saat sakit stroke dan harus menggunakan kursi roda.
Perhatiannya pada keluarga dan santri sangat detail, namun selalu berpijak pada syariat. Ia menanamkan tanggung jawab, kemandirian, dan pentingnya silaturahmi kepada 12 putra-putrinya. Kedermawanannya pun menjadi teladan—tidak jarang ia mengikhlaskan utang tamu yang datang untuk membayar.
Nyai Ainiyah wafat pada 20 Januari 2013 M atau 8 Rabiulawal 1434 H, di bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang sangat ia cintai. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam. Tahlil, Al-Qur’an, dan Burdah mengiringi kepergian sosok yang oleh para santri disebut sebagai “cahaya pesantren”.
Mambaus Sholihin kehilangan satu pelita, namun teladan Nyai Ainiyah Yusuf tetap hidup—mengakar dalam tradisi, khidmah, dan jiwa para santri. (ivan)