Saat menjadi santri, KH Azizi mendapat tugas mengurus sapi milik keluarga pengasuh pesantren. Aktivitasnya sehari-hari meliputi mencari rumput, memberi makan, membersihkan kandang, hingga merawat ternak. Ia bahkan tinggal di gubuk sederhana di dekat kandang sapi.
Namun di tengah kesibukan itu, kemampuan intelektualnya justru menonjol. Ia dikenal memiliki hafalan kuat, pemahaman mendalam, serta kemampuan argumentasi fiqih yang tajam. Di forum musyawarah kitab dan bahtsul masail, ia sering dipercaya sebagai rais atau pemimpin diskusi.
Kemampuannya yang luar biasa membuatnya dijuluki “Macan Lirboyo”, simbol keunggulan intelektual dan keberanian dalam merumuskan hukum Islam.