Gus Muid

Ahli Falak asal Gresik yang Jadi Rujukan Pemantauan Hilal

tokoh | 18 Februari 2026 18:44

Ahli Falak asal Gresik yang Jadi Rujukan Pemantauan Hilal
Gus Muid saat mempresentasikan pemantauan hilal di Bukit Condrodipo Gresik. (dok gresiksatu)

GRESIK, PustakaJC.co - Abdul Muid, atau yang akrab disapa Gus Muid, dikenal luas sebagai ahli falak asal Gresik yang menjadi rujukan dalam setiap pemantauan hilal.

 

Lahir di Desa Manyar Sidomukti, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, pada 10 Maret 1974, Gus Muid telah puluhan tahun menekuni ilmu falak—cabang astronomi yang mempelajari lintasan, pergerakan, serta kedudukan benda-benda langit, khususnya bulan sebagai penentu awal bulan hijriah. Dilansir dari gresiksatu.com, Rabu, (18/2/2026).

 

Pria yang mulai praktik rukyat sejak 1995 ini awalnya memantau hilal berpindah-pindah ke beberapa daerah sebelum menetap di Bukit Condrodipo pada 2005.

 

“Jadi saya sudah merukyat mulai tahun 1995. Tapi saat itu masih belum ada rukyat Condrodipo. Kita rukyat ke berbagai kota seperti Lumajang, Tanjung Kodok, dan lainnya. Baru menetap di Condrodipo tahun 2005,” ujarnya, Senin, (16/2/2026).

 

 

 

Ketertarikannya pada ilmu falak bermula dari perbedaan penetapan awal Ramadan dan Idulfitri di kalangan warga NU pada awal 1990-an. “Saya belajar ilmu falak sekitar umur 21 tahun lewat guru Mbah Zubair. Dulu terjadi perbedaan antarwarga NU sendiri, padahal hilal itu satu di dunia. Dari situ saya mulai rukyat dulu, baru belajar hisab,” jelasnya.

 

Ia memperdalam ilmu falak kepada sejumlah guru, di antaranya KH Zubair Abdul Karim dan Kiai Ghazali Madura. Awalnya, observasi hilal dilakukan hanya saat Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah, namun sejak menetap di Bukit Condrodipo, pemantauan bisa dilakukan setiap bulan.

 

Menariknya, dari puluhan tahun pengalaman rukyat, Gus Muid mengaku hanya sekali melihat hilal dengan mata telanjang. 

 

“Sejak 1995 sampai sekarang, hanya pernah melihat dengan mata telanjang satu kali. Itu pun karena ketinggiannya di atas enam derajat. Sekarang ketinggian tiga derajat saja sudah dianggap imkanur rukyat,” ujar Gus Muid.

 

 

Dedikasinya membuat Gus Muid dipercaya mengemban berbagai amanah strategis. Ia tercatat sebagai Tim Rukyat Lajnah Falakiyah PBNU, anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag RI, Tim Unifikasi Kalender Kemenag, aktif di Lajnah Falakiyah PCNU dan PWNU Jatim, Wakil Ketua Lembaga Falakiyah PWNU Jatim 2024–2029, serta dosen Ilmu Falak di Institut Keislaman Abdullah Faqih Gresik sejak 2013.

 

Dalam bidang sosial keumatan, Gus Muid juga menjabat Ketua Umum Yayasan Ta’mir Masjid Jami’ Manyar (YA-TAMAM) sejak 2015 dan Ketua KBIHU YATAMAM sejak 2016.

 

Ia menuturkan kepuasan tersendiri saat perhitungan hisab terbukti presisi dengan fenomena alam. 

 

“Misalnya gerhana matahari, saya hitung jam sekian piringan pertama muncul, lalu benar-benar sesuai. Padahal yang menggerakkan matahari dan bulan itu Tuhan,” katanya.

 

 

 

Di balik kiprahnya yang diakui nasional, perjalanan hidup Gus Muid tidak mudah. Ia hanya menempuh pendidikan formal hingga SD, dan harus membantu ekonomi keluarga sejak ayahnya wafat saat ia kelas empat SD. Ia belajar mandiri di rumah hingga mendalami ilmu agama, matematika, fisika, dan teknologi.

 

Kini, Gus Muid dikaruniai lima anak dari pernikahannya dengan Khoirun Nisa’. Di tengah kesibukan pemantauan hilal dan aktivitas keilmuan, ia tetap membangun keluarga hangat dan terus menebar manfaat bagi umat. (ivan)