Mahbub Djunaidi

Pena Tajam NU yang Tak Pernah Tunduk pada Kekuasaan

tokoh | 17 Maret 2026 18:13

Pena Tajam NU yang Tak Pernah Tunduk pada Kekuasaan
H Mahbub Djunaidi. (dok nuonline)

SURABAYA, PustakaJC.co - Sosok Mahbub Djunaidi kembali relevan di tengah situasi ancaman terhadap aktivis yang belakangan muncul. Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) ini dikenal sebagai pejuang demokrasi yang berani bersuara, bahkan di masa represif seperti Orde Baru.

 

Lahir di Jakarta pada 27 Juli 1933, Mahbub tumbuh dalam lingkungan keluarga religius. Ayahnya, KH Muhammad Djunaidi, dikenal sebagai sosok sederhana namun tegas dalam prinsip. Nilai keberanian dan keteguhan itulah yang membentuk karakter Mahbub sejak muda. Dilansir dari nu.or.id, Selasa, (17/3/2026).

 

Sejak mahasiswa di Universitas Indonesia, Mahbub aktif berorganisasi. Ia bahkan tercatat sebagai Ketua Umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 1960.

 

 

Kariernya di dunia jurnalistik juga moncer. Namanya melekat pada harian Duta Masyarakat, media milik PBNU. Melalui tulisan-tulisannya, Mahbub dikenal piawai menyampaikan kritik tajam dengan gaya satire yang cerdas.

 

Namun keberaniannya tak datang tanpa risiko. Pada Pemilu 1971, laporan kritis Duta Masyarakat soal dugaan kecurangan berujung pembredelan. Tak berhenti di situ, Mahbub tetap lantang menulis kritik terhadap kekuasaan.

 

Puncaknya, pada 1977, ia dipenjara tanpa proses pengadilan oleh rezim Orde Baru. Meski di balik jeruji, semangatnya tak padam. Dalam sepucuk surat Lebaran untuk keluarganya, ia menegaskan bahwa kebahagiaan sejati bukan pada kemewahan, melainkan kejujuran dan ketulusan.

 

 

Sikap kritis Mahbub bukan sekadar politik, tetapi juga berakar pada nilai agama. Ia meyakini bahwa menyuarakan kebenaran adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar, sebagaimana ajaran dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi.

 

Mahbub Djunaidi wafat pada 1 Oktober 1995 dan dimakamkan di Bandung. Warisannya bukan hanya tulisan, tetapi juga keberanian untuk melawan tirani dengan akal sehat dan hati nurani.

 

Ia bukan sekadar jurnalis. Ia adalah suara yang tak bisa dibungkam. (ivan)