Oman Fathurahman

Dari Santri hingga Peraih Habibie Prize, Jejak Sunyi Filolog Nusantara

tokoh | 23 Maret 2026 12:55

Dari Santri hingga Peraih Habibie Prize, Jejak Sunyi Filolog Nusantara
Oman Fathurahman. (nuonline)

SURABAYA, PustakaJC.co - Nama Oman Fathurahman menempati posisi penting dalam dunia filologi dan studi manuskrip Nusantara. Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini dikenal sebagai sosok yang menghidupkan kembali teks-teks klasik melalui riset mendalam yang berdampak luas bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

 

Jauh sebelum dikenal sebagai akademisi terkemuka, Oman adalah seorang santri. Ia menimba ilmu di Pondok Pesantren Cipasung, lalu melanjutkan ke Pesantren Haurkuning Salopa dan Pesantren Miftahul Huda di Tasikmalaya, Jawa Barat. Lingkungan pesantren membentuk karakter disiplin, ketahanan hidup, serta fondasi keilmuan keislaman yang kuat. Dilansir dari nu.pr.od, Senin, (23/3/2026).

 

Perjalanan hidupnya tidak selalu mulus. Pada 1987, kesempatan kuliah di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung harus ia urungkan karena keterbatasan ekonomi. Tekadnya tak padam. Setahun kemudian, ia merantau ke Jakarta dan menjalani berbagai pekerjaan, mulai dari pedagang asongan hingga buruh, demi mengumpulkan biaya pendidikan.

 

Dari kerja keras itu, Oman akhirnya berhasil menempuh pendidikan di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selama kuliah, ia tetap bertahan dengan bekerja sebagai penjual kacamata. Ketekunan tersebut mengantarkannya meraih beasiswa hingga menyelesaikan studi magister dan doktoral di bidang filologi.

 

 

Fokus keilmuannya pada manuskrip Islam Nusantara menjadikannya dikenal luas di dunia akademik. Ia meneliti naskah berbahasa Arab, Melayu, Sunda, dan Jawa dengan pendekatan kontekstual yang menghubungkan teks dengan jaringan ulama dan sejarah intelektual.

 

Dalam perjalanan kariernya, Oman juga aktif di berbagai lembaga. Ia pernah menjabat Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta, hingga Staf Ahli Menteri Agama. Ia juga terlibat dalam program pelestarian manuskrip melalui Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA).

 

Jejaring internasionalnya pun luas. Ia pernah menjadi peneliti tamu di Jerman, menerima Chevening Fellowship di Oxford, serta menjadi profesor tamu di sejumlah universitas di Jepang. Pengalaman ini memperkuat kontribusinya dalam studi manuskrip di tingkat global.

 

Puncak pengakuan atas dedikasinya datang saat ia meraih Habibie Prize 2023 di bidang filsafat, agama, dan budaya. Penghargaan bergengsi ini menegaskan kontribusinya dalam mengembangkan kajian filologi dan tradisi intelektual Nusantara.

 

 

Salah satu gagasan penting yang ia kembangkan adalah konsep “Filologi Plus”. Ia menilai filologi tidak cukup berhenti pada transliterasi dan terjemahan, tetapi harus mampu membaca teks dalam konteks sosial, sejarah, dan budaya. Pendekatan ini membuka ruang baru dalam memahami manuskrip sebagai sumber pengetahuan yang hidup.

 

Oman menegaskan pentingnya perhatian terhadap manuskrip sebagai bagian dari identitas bangsa. Menurutnya, tanpa membaca warisan teks secara serius, arah pengembangan ilmu dan kebudayaan akan kehilangan pijakan.

 

Kisah Oman Fathurahman menjadi bukti bahwa jalan ilmu lahir dari ketekunan. Dari kehidupan sederhana di pesantren hingga meraih penghargaan nasional, ia menunjukkan bahwa naskah lama bukan sekadar warisan, melainkan sumber gagasan untuk masa depan. (ivan)