SURABAYA, PustakaJC.co - Sebuah anekdot dari KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur kembali mengemuka saat membahas sosok dr. Fahmi Dja’far Saifuddin. Bukan sekadar cinta, Fahmi bahkan disebut sebagai “orang NU gila”—istilah khas Gus Dur untuk mereka yang total mengabdi tanpa batas waktu.
Dalam kisah yang ditulis Ajie Najmuddin di NU Online, Gus Dur pernah mengklasifikasikan kecintaan terhadap Nahdlatul Ulama. Jika seseorang memikirkan NU hingga malam, itu sudah tergolong “gila organisasi”. Namun jika sampai lewat tengah malam, maka ia adalah “orang NU gila”. Dilansir dari nu.or.id, Minggu, (12/4/2026).
Fahmi adalah contoh nyatanya. Suatu ketika, ia mengajak Gus Dur menghadiri acara NU di Tanjung Priok pada pukul 01.00 dini hari—sebuah bukti nyata dedikasi tanpa batas.
Fahmi lahir pada 18 Oktober 1942 di Purworejo, dari keluarga besar NU. Ayahnya, KH Saifuddin Zuhri, dikenal sebagai tokoh NU yang hidupnya diabdikan untuk umat dan negara.
Sejak kecil, Fahmi sudah merasakan kerasnya masa perjuangan, termasuk saat hampir terpisah dari keluarganya dalam peristiwa Agresi Militer II. Pengalaman itu membentuk karakter tangguh sekaligus pengabdiannya di kemudian hari.
Perjalanan intelektualnya dimulai dari pesantren hingga masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Di masa mahasiswa, ia aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan menjadi Ketua PC PMII pertama di Jakarta.
Tak hanya aktif berorganisasi, Fahmi juga dikenal sebagai dokter dengan jiwa sosial tinggi. Ia kerap menggratiskan biaya pengobatan bagi kader PMII, bahkan membantu biaya obat dan kegiatan mereka.
Fahmi menjabat sebagai Ketua PBNU selama tiga periode (1984–1999) di bawah kepemimpinan Gus Dur. Ia ikut terlibat dalam momentum penting kembalinya NU ke Khittah 1926, yang menandai transformasi NU dari partai politik menjadi organisasi sosial-keagamaan.
Ia juga menjadi perintis lahirnya Lakpesdam NU, lembaga strategis yang fokus pada pengembangan sumber daya manusia, riset, dan pemberdayaan masyarakat.
Salah satu ciri khasnya adalah metode berpikir “bulkonah”—singkatan dari bulatan, kotak, dan panah—yang digunakan untuk memetakan persoalan secara sistematis.
Selain aktif di organisasi, Fahmi juga seorang akademisi. Ia meraih gelar Master of Public Health dari Johns Hopkins University dan pernah menjadi Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI selama tiga periode.
Ia dikenal tekun mendokumentasikan kegiatan NU melalui rekaman kaset, catatan, dan arsip—yang oleh banyak tokoh disebut sebagai “harta karun intelektual”.
Sayangnya, sebelum sempat menerima gelar kehormatan, Fahmi wafat pada 3 Maret 2002 dan dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta.
Kepergian Fahmi meninggalkan duka mendalam. KH Ali Yafie menyebutnya sebagai sosok teladan dalam dedikasi, keteguhan prinsip, dan pengabdian tanpa pamrih.
Fahmi bukan sekadar tokoh. Ia adalah representasi nyata dari pengabdian total—sosok yang tidak hanya mencintai NU, tetapi hidup sepenuhnya untuk NU. (ivan)