Tak hanya cerdas, Roosseno juga termasuk segelintir pribumi yang berhasil menyelesaikan pendidikan teknik saat itu. Dari 10 lulusan, hanya dua orang pribumi, menjadikannya sosok yang sangat langka sekaligus membanggakan di masa kolonial.
Julukan “Bapak Beton Indonesia” disematkan karena kontribusinya dalam mengembangkan teknologi beton bertulang dan beton prategang di Tanah Air. Ia terlibat dalam berbagai proyek monumental seperti Hotel Indonesia, Gedung Sarinah, Gelora Bung Karno, hingga Jembatan Semanggi.