SURABAYA, PustakaJC.co – Di balik pembangunan Proyek Asahan yang kini menjadi salah satu tonggak industri aluminium nasional, tersimpan kisah kepemimpinan Presiden ke-2 RI Soeharto yang pernah meluapkan kemarahan kepada jajaran menteri ekonomi. Peristiwa itu terjadi pada 1976 ketika anggaran proyek strategis tersebut tak kunjung dicairkan, meski telah menjadi prioritas pemerintah.
Proyek Asahan merupakan megaproyek hasil kerja sama Indonesia dan Jepang yang memanfaatkan aliran Sungai Asahan di Sumatera Utara sebagai sumber energi pembangkit listrik tenaga air sekaligus memasok kebutuhan pabrik peleburan aluminium. Pada masanya, proyek tersebut memiliki nilai investasi sekitar 411 miliar yen atau setara sekitar Rp1,7 triliun, menjadikannya salah satu investasi terbesar yang pernah dilakukan Indonesia.
Karena dinilai sangat strategis, Soeharto menunjuk orang kepercayaannya, A.R. Soehoed, sebagai Ketua Otorita Pengembangan Proyek Asahan. Namun dalam pelaksanaannya, pencairan anggaran justru mengalami hambatan di tingkat kementerian.
Soehoed telah berulang kali berkoordinasi dengan jajaran menteri ekonomi, termasuk Menteri Koordinator Ekonomi saat itu. Namun berbagai upaya tersebut tidak membuahkan hasil sehingga pembangunan proyek mulai terhambat.