Warisan Keilmuan

Kiai Aqil Siroj dan Warisan Keilmuan Alfiyah Ibnu Malik

tokoh | 19 Juli 2026 13:47

 

Isi manuskrip memuat nazam-nazam Alfiyah Ibnu Malik lengkap dengan makna gandul berbahasa Jawa beraksara Pegon serta syarah atau penjelasan Kiai Aqil yang juga ditulis menggunakan bahasa Jawa. Penyusunan seperti itu menunjukkan kuatnya tradisi pengajaran kitab kuning di lingkungan pesantren.

 

Abror menjelaskan, manuskrip tersebut tidak hanya berfungsi sebagai catatan pelajaran, tetapi juga menjadi bukti praktik transmisi ilmu dari guru kepada murid. Tradisi penulisan semacam ini telah lama dikenal dalam dunia keilmuan Islam, ketika murid menyalin penjelasan guru yang kemudian menjadi rujukan bagi generasi berikutnya.

 

Pengaruh guru Kiai Aqil, yakni Kiai Kholil Harun dari Kasingan, Rembang, juga terlihat kuat dalam manuskrip tersebut. Hal itu tampak dari penggunaan dialek Jawa khas Rembang, pola penyampaian materi, hingga struktur bahasa yang digunakan dalam penjelasan kitab.

 

Setelah mendirikan Pesantren Kempek, Kiai Aqil menjadikan Alfiyah Ibnu Malik sebagai salah satu pelajaran utama. Para santri tidak hanya diwajibkan memahami isi kitab, tetapi juga menghafal seluruh 1.002 bait nazam sebagai bekal mendalami berbagai kitab klasik lainnya.

 

Sebagai bentuk apresiasi terhadap santri yang berhasil menuntaskan hafalan dan pengajian, Kiai Aqil menyelenggarakan tradisi Tasyakkur Alfiyah. Tradisi wisuda tersebut masih terus dilaksanakan hingga sekarang sebagai agenda tahunan di KHAS Kempek.