Warisan Keilmuan

Kiai Aqil Siroj dan Warisan Keilmuan Alfiyah Ibnu Malik

tokoh | 19 Juli 2026 13:47

Kiai Aqil Siroj dan Warisan Keilmuan Alfiyah Ibnu Malik
Kiai Aqil Siroj. (dok nuonline)

SURABAYA, PustakaJC.co – Kiai Aqil Siroj (1920–1990) dikenal sebagai ulama asal Cirebon sekaligus pendiri Majlis Tarbiyatul Mubtadi’ien yang kini bernama KHAS Kempek pada 1960. Selain mewariskan pesantren dengan ribuan santri, ayah dari Ketua Umum PBNU periode 2010–2021, KH Said Aqil Siroj, itu juga meninggalkan sejumlah karya keilmuan, salah satunya manuskrip Syarah Alfiyah Ibnu Malik.

 

Dalam artikel yang dimuat NU Online, pegiat filologi sekaligus dosen Ma’had Aly Sa’iidusshiddiqiyah Jakarta, Muhamad Abror, menjelaskan bahwa manuskrip tersebut menjadi salah satu bukti penting tradisi intelektual pesantren dalam menjaga kesinambungan sanad keilmuan. Dilansir dari nu.or.id, Minggu, (19/7/2026).

 

Meski bukan ditulis langsung oleh Kiai Aqil, manuskrip itu merupakan hasil transkripsi salah seorang muridnya, Abdul Mukti, asal Prapag Kidul, Losari, Brebes. Selama mengikuti pengajian Alfiyah, Abdul Mukti mencatat secara rinci penjelasan gurunya hingga menjadi sebuah naskah yang merekam proses pembelajaran secara utuh.

 

Dalam kolofon manuskrip disebutkan, pengajian Alfiyah dimulai pada Kamis, 26 Dzulhijjah 1399 H atau 15 November 1979 dan berakhir pada Kamis, 15 Sya’ban 1401 H atau 18 Juni 1981. Tanggal tersebut sekaligus menjadi penanda selesainya penulisan manuskrip yang kini berusia sekitar 45 tahun.

 

 

Isi manuskrip memuat nazam-nazam Alfiyah Ibnu Malik lengkap dengan makna gandul berbahasa Jawa beraksara Pegon serta syarah atau penjelasan Kiai Aqil yang juga ditulis menggunakan bahasa Jawa. Penyusunan seperti itu menunjukkan kuatnya tradisi pengajaran kitab kuning di lingkungan pesantren.

 

Abror menjelaskan, manuskrip tersebut tidak hanya berfungsi sebagai catatan pelajaran, tetapi juga menjadi bukti praktik transmisi ilmu dari guru kepada murid. Tradisi penulisan semacam ini telah lama dikenal dalam dunia keilmuan Islam, ketika murid menyalin penjelasan guru yang kemudian menjadi rujukan bagi generasi berikutnya.

 

Pengaruh guru Kiai Aqil, yakni Kiai Kholil Harun dari Kasingan, Rembang, juga terlihat kuat dalam manuskrip tersebut. Hal itu tampak dari penggunaan dialek Jawa khas Rembang, pola penyampaian materi, hingga struktur bahasa yang digunakan dalam penjelasan kitab.

 

Setelah mendirikan Pesantren Kempek, Kiai Aqil menjadikan Alfiyah Ibnu Malik sebagai salah satu pelajaran utama. Para santri tidak hanya diwajibkan memahami isi kitab, tetapi juga menghafal seluruh 1.002 bait nazam sebagai bekal mendalami berbagai kitab klasik lainnya.

 

Sebagai bentuk apresiasi terhadap santri yang berhasil menuntaskan hafalan dan pengajian, Kiai Aqil menyelenggarakan tradisi Tasyakkur Alfiyah. Tradisi wisuda tersebut masih terus dilaksanakan hingga sekarang sebagai agenda tahunan di KHAS Kempek.

 

 

 

Menurut Abror, keputusan Kiai Aqil mempertahankan metode pengajaran, dialek, hingga gaya bahasa gurunya merupakan bagian dari upaya menjaga kesinambungan sanad keilmuan. Dalam tradisi pesantren, kesinambungan tersebut menjadi dasar penting bagi legitimasi dan otoritas ilmu yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

 

Karena itu, manuskrip Syarah Alfiyah Ibnu Malik tidak sekadar menjadi dokumen pembelajaran, melainkan juga merekam sejarah intelektual pesantren. Melalui naskah tulis tangan itu, terlihat bagaimana tradisi keilmuan, penghormatan kepada guru, dan pewarisan sanad terus dipelihara sebagai fondasi pendidikan Islam di lingkungan pesantren. (ivan)