Kisah Inspiratif Ulama Indonesia

Kisah KH M Zen Syukri Menjual Sepeda Demi Berguru kepada KH Hasyim Asy’ari

tokoh | 03 Agustus 2026 13:40

Kisah KH M Zen Syukri Menjual Sepeda Demi Berguru kepada KH Hasyim Asy’ari
KH Zen Syukri. (dok nuonline)

SURABAYA, PustakaJC.co - Saat itu, sekitar 1935, cita-cita Muhammad Zen Syukri untuk melanjutkan pendidikan agama ke Makkah bersama dua sahabatnya harus pupus. Hasil istikharah sang ayah membuat rencana tersebut dibatalkan. Keputusan itu sempat mengundang cibiran dari warga sekitar, namun tidak memadamkan semangatnya untuk menuntut ilmu.

 

Berbekal uang hasil menjual sepedanya, Zen Syukri memilih merantau ke Jombang, Jawa Timur, untuk belajar di Pondok Pesantren Tebuireng yang diasuh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Nama pendiri Nahdlatul Ulama itu telah lebih dulu dikenalnya melalui cerita gurunya di Palembang, Sayyid Muhammad bin Salim Al-Kaf. Dilansir dari nu.or.id, Senin, (3/8/2026).

 

Perjalanan menuju Tebuireng bukanlah perkara mudah. Setelah menempuh perjalanan panjang, ia tiba di Jombang sekitar 1937. Kondisi ekonomi yang terbatas membuatnya tidak mampu membeli seluruh kitab yang menjadi bahan pembelajaran di pesantren. Setiap malam ia meminjam kitab milik teman-temannya, kemudian menyalinnya dengan tangan agar tetap dapat mengikuti pelajaran.

 

Selama menjadi santri, Zen Syukri juga mengabdikan diri sebagai khadim ndalem, membantu berbagai keperluan di lingkungan pesantren. Kesungguhan, kedisiplinan, dan kerendahan hatinya membuat KH Hasyim Asy’ari memberikan perhatian khusus. Ia bahkan beberapa kali diajak mendampingi sang guru berdakwah ke berbagai daerah di sekitar Jombang.

 

 

Pengalaman mendampingi Hadratussyekh menjadi bekal berharga bagi Zen Syukri. Dari perjalanan dakwah tersebut, ia belajar bagaimana melayani masyarakat, berdialog dengan para kiai, hingga menyampaikan pengajian kepada umat.

 

Sekitar tiga tahun menimba ilmu di Tebuireng, Zen Syukri berpamitan untuk kembali ke Palembang pada 1939. Sebelum pulang, KH Hasyim Asy’ari memberikan pesan yang terus dipegang teguh sepanjang hidupnya.

 

“Namamu hanya Muhammad Zen Syukri, tanpa gelar apa-apa, hanya gelar abdullah (hamba Allah), yang patut diharapkan dari Allah.”

 

 

 

Sekembalinya ke Palembang, KH M. Zen Syukri mulai mengembangkan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus memperkuat organisasi Nahdlatul Ulama di Sumatera Selatan. Berkat bekal ilmu dan pengalaman selama mondok di Tebuireng, ia dipercaya menduduki berbagai posisi strategis di lingkungan NU, mulai dari Sekretaris PCNU Palembang pada 1940, Ketua Tanfidziyah PCNU Palembang pada 1943, Wakil Ketua Tanfidziyah pada 1956, hingga Rais Syuriyah PCNU Palembang pada 1962 dan 1966.

 

Pengabdiannya berlanjut sebagai Rais Syuriyah PWNU Sumatera Selatan selama tiga periode, yakni 1984–1999, sebelum kemudian dipercaya menjadi Mustasyar PBNU pada 2007. Selain aktif di organisasi keagamaan, KH M. Zen Syukri juga mengabdikan diri di dunia pemerintahan sebagai anggota DPR Kota Palembang selama empat periode, yakni 1975–1995, dan menjadi anggota MPR RI utusan daerah periode 1995–2000.

 

Dalam perjalanan NU, rumah KH M. Zen Syukri juga menjadi saksi sejarah. Pada Muktamar ke-19 NU di Palembang tahun 1952, kediamannya menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan muktamar yang melahirkan keputusan penting, yakni NU memisahkan diri dari Masyumi dan berdiri sebagai partai politik sendiri.

 

Ia juga menghadiri Muktamar NU ke-27 di Situbondo pada 1984 yang menetapkan NU kembali ke Khittah 1926. Keputusan tersebut menjadi tonggak penting yang menegaskan NU kembali fokus pada gerakan sosial, pendidikan, dan keagamaan, terlepas dari politik praktis.

 

 

Memasuki usia senja, cita-cita KH M. Zen Syukri untuk memiliki pesantren sendiri akhirnya terwujud. Pada 29 Desember 2008 atau 1 Muharram 1435 Hijriah, ia mendirikan Pondok Pesantren Muqimus Sunnah di kawasan Sekanak, Palembang. Nama “Muqimus Sunnah” dipilih dari salah satu nama Rasulullah SAW yang tercantum dalam kitab Dalailul Khairat.

 

KH M. Zen Syukri wafat pada 22 Maret 2012. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Sumatera Selatan. Ribuan pelayat memadati Masjid Agung Palembang hingga mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir. Iring-iringan pemakamannya bahkan dikenang sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah Kota Palembang, mencerminkan besarnya kecintaan umat kepada ulama yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk dakwah, pendidikan, dan Nahdlatul Ulama. (ivan)