Namun, Raja’ dan Yazid menolak hadiah tersebut. Mereka memilih agar dana tersebut digunakan kembali untuk kepentingan pembangunan. Atas sikap itu, Abdul Malik kemudian memerintahkan agar emas tersebut dilebur dan digunakan untuk memperindah kubah.
Kisah tersebut menjadi gambaran penting mengenai integritas dalam mengelola amanah negara. Raja’ dan Yazid tidak mengambil keuntungan pribadi meskipun memiliki kesempatan untuk menerima pemberian dari penguasa.
Sikap mereka juga menunjukkan pentingnya menghindari konflik kepentingan dalam menjalankan jabatan publik. Harta negara harus tetap diarahkan untuk kepentingan masyarakat dan tujuan yang telah ditetapkan.
Raja’ bin Haiwah pada akhirnya lebih memilih menjauh dari lingkungan pemerintahan setelah tidak lagi terlibat dalam urusan tersebut. Ia kemudian lebih banyak mencurahkan waktunya untuk beribadah dan mengembangkan ilmu.
Kisah Raja’ mengajarkan bahwa jabatan publik merupakan amanah, bukan sarana untuk membalas kepentingan pribadi, menguntungkan kelompok tertentu, atau memperoleh keuntungan finansial. Integritas seorang pejabat menjadi salah satu benteng penting untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan dan pengelolaan harta publik yang tidak semestinya. (ivan)