SURABAYA, PustakaJC.co - Perkembangan pemikiran Islam kontemporer mendorong munculnya berbagai upaya untuk merekonstruksi teologi agar tidak hanya membahas persoalan metafisis, tetapi juga mampu menjawab problem kemanusiaan. Salah satu pemikir yang menawarkan gagasan tersebut adalah Hassan Hanafi.
Hanafi mengkritik kecenderungan teologi yang terlalu berorientasi pada pembahasan ketuhanan secara teoretis. Menurutnya, pemikiran teologi seharusnya memiliki hubungan yang lebih kuat dengan kehidupan sosial sehingga keimanan dapat mendorong manusia melakukan perubahan dalam kehidupan nyata. Dilansir dari nu.or.id, Kamis, (27/8/2026).
Biografi Hassan Hanafi
Hassan Hanafi lahir di Kairo, Mesir, pada 13 Februari 1935. Ia berasal dari keluarga musisi. Pendidikan dasarnya diselesaikan pada 1948, sebelum melanjutkan pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Khalil Agha di Kairo hingga tamat pada 1952.
Sejak sekolah menengah, Hanafi aktif mengikuti diskusi kelompok Ikhwanul Muslimin. Dari lingkungan tersebut, ia mengenal berbagai gagasan keislaman dan kegiatan sosial. Ia juga mempelajari pemikiran Sayyid Qutb, terutama mengenai keadilan sosial dan keislaman.
Pada 1952, Hanafi melanjutkan studi di Departemen Filsafat Universitas Kairo dan menyelesaikannya pada 1956. Setelah itu, ia meneruskan pendidikan di Universitas Sorbonne, Prancis.