Dalam perspektif tersebut, ilmu kalam dapat dipahami sebagai diskursus manusia mengenai Tuhan. Pembicaraan mengenai wahyu tidak dapat dilepaskan dari pikiran, perasaan, bahasa, pengalaman, dan konteks manusia yang memahaminya.
Hanafi berpandangan bahwa Tuhan tidak dapat dijadikan objek ilmu sebagaimana objek empiris lainnya. Tuhan mengungkapkan kehendak-Nya melalui wahyu, sedangkan manusia memahami wahyu melalui proses penafsiran.
Karena itu, ilmu tentang firman Tuhan memiliki dimensi hermeneutis. Penafsiran tidak hanya berkaitan dengan bentuk teks, tetapi juga konteks serta makna yang dirujuk teks dalam kehidupan manusia.
Dari sinilah Hanafi melihat adanya dimensi kemanusiaan dalam teologi. Teologi tidak hanya membicarakan Tuhan, tetapi juga manusia sebagai penerima dan penafsir wahyu.