Menurut pandangannya, nilai-nilai Al-Qur’an perlu hadir dalam pembentukan karakter, budaya ilmu, etos kerja, hubungan sosial, tata kelola pemerintahan, serta pembangunan masyarakat.
Bennabi juga tidak memandang kemajuan teknologi sebagai sesuatu yang harus ditolak. Tantangannya adalah bagaimana umat Islam dapat menghadapi perkembangan teknologi dengan landasan nilai dan tujuan peradaban yang jelas.
Tanpa kemampuan tersebut, masyarakat Muslim berisiko hanya menjadi konsumen teknologi dan penerima gagasan dari peradaban lain tanpa memiliki kemampuan untuk menentukan arah perkembangannya sendiri.
Pemikiran Malik Bennabi pada akhirnya mengarah pada satu pesan penting, bahwa kebangkitan peradaban tidak cukup dibangun dengan menyalahkan faktor eksternal. Perubahan juga membutuhkan pembenahan dari dalam masyarakat.