YOGYAKARTA, PustakaJC.co - Keteladanan, keteguhan hati, dan pengabdian tanpa batas ditunjukkan oleh ulama kharismatik asal Yogyakarta, KH Asyhari Abdullah Tamrin (KH Asyhari Abta). Meski harus menjalani prosedur medis cuci darah selama hampir satu dekade sejak tahun 2016, mantan Rais Syuriah PWNU DIY ini tetap aktif mengajar, memimpin pesantren, dan berdakwah hingga hembusan napas terakhirnya.
Kiai Asyhari tutup usia pada umur 74 tahun di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito, Sleman, Yogyakarta, pada Kamis, (24/9/2026) pukul 04.01 WIB. Dilansir dari nu.or.id, Rabu, (30/9/2026).
Kiprah Dakwah Sejak Muda
Jejak dakwah Kiai Asyhari telah membekas kuat sejak usia muda. Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, KH Hilmy Muhammad (Gus Hilmy), mengenang bahwa ketika para santri fokus bermusyawarah di malam hari, Kiai Asyhari sudah aktif merambah desa-desa untuk mengisi pengajian umum.
Kiprah dakwahnya meliputi berbagai peran strategis:
- Penggerak Majelis Masyarakat: Menginisiasi dan mengampu majelis saat memimpin Korps Dakwah Mahasiswa (Kodama) Kabupaten Bantul.
- Penceramah Populer: Memiliki jadwal pengajian rutin di Muntilan (Magelang), mendampingi KH Atabik Ali dalam Pengajian Jumat Legi di Krapyak, serta menjadi badal (pengganti) almarhum KH Mufid Mas’ud.
- Gaya Ceramah Legendaris: Dikenal menyampaikan materi berbobot akhlak dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan gaya bahasa yang ringan, renyah, dan mudah dipahami masyarakat awam. Kiai Asyhari kerap mengutip ajaran gurunya yang juga Rais ‘Aam PBNU (1981–1984), KH Ali Maksum.
Pengabdian Pendidikan dan Pesantren
Di dunia pendidikan, Kiai Asyhari lama mengabdi di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Beliau mengampu kajian kitab kuning seperti Ilmu Nahwu, Ushul Fiqh, dan kitab-kitab akhlak. Beliau sempat mengabdi sebagai Wakil Kepala hingga diamanahi menjadi Kepala Madrasah Aliyah Krapyak.
Memasuki masa tua, beliau menetap di Sleman dan mendirikan Pesantren Tegalsari di Dusun Tegalsari, Desa Wedomartani, Ngemplak, Sleman. Di sana, beliau mengasuh mahasantri sekaligus membuka majelis pengajian khusus bagi para kasepuhan dan tokoh masyarakat Sleman.
Rekam Jejak Pengabdian di Nahdlatul Ulama
Dalam struktur organisasi Nahdlatul Ulama, KH Asyhari Abta memegang sejumlah amanah penting sepanjang hidupnya:
- Rais Syuriah PCNU Bantul: Periode 1996–2000 dan 2001–2005
- Rais Syuriah PWNU DIY: Periode 2006–2011 dan 2012–2016
- Mustasyar PWNU DIY: Periode 2022–2027
Istiqamah Hingga Hujung Usia
Meski kondisi fisiknya harus ditopang proses cuci darah berkala selama 10 tahun, Kiai Asyhari tidak pernah mengeluhkan sakitnya. Beliau tetap rutin mengajar di Krapyak, menghadiri agenda besar seperti Muktamar Ke-35 NU di Jombang, hingga memimpin pengajian rutin.
Bahkan pada hari Sabtu menjelang wafatnya, Kiai Asyhari masih sempat mengaji bersama para kiai dan tokoh NU Sleman pada pagi hari, sebelum akhirnya dilarikan ke ruang ICU RSUP Dr. Sardjito pada siang harinya.
Semangat dan keteguhan KH Asyhari Abta meninggalkan iktibar berharga bagi umat: untuk tidak mudah menyerah atau mengeluh, serta memandang setiap tantangan fisik dan kehidupan sebagai wadah perjuangan berdakwah. (ivan)