Wajah Alun-alun Kota Batu Kini Jadi Ruang Berkumpul Warga dan Wisatawan

wisata | 25 Desember 2025 09:51

Wajah Alun-alun Kota Batu Kini Jadi Ruang Berkumpul Warga dan Wisatawan
Alun-alun Kota Batu. (dok detik)

BATU, PustakaJC.co - Alun-alun Kota Batu kini tidak lagi sekadar menjadi ruang lintasan bagi pengunjung. Menjelang libur Natal dan Tahun Baru, kawasan ini justru tampil sebagai ruang berkumpul yang ramai dimanfaatkan warga maupun wisatawan untuk bersantai dan berinteraksi.

 

Pada malam hari, kepadatan pengunjung terlihat di hampir seluruh sudut alun-alun. Bangku taman dipenuhi, sebagian pengunjung memilih duduk lesehan, sementara lainnya berdiri berkelompok sambil berbincang. Tak sedikit pula rombongan yang datang dengan pakaian seragam sebagai penanda kebersamaan. Dilansir dari detik.com, Kamis, (25/12/2025).

 

Keramaian paling terasa di area sentra kuliner. Pengunjung tampak mengantre di sejumlah lapak makanan, sementara beberapa titik favorit seperti Pos Ketan Legenda dan kafe di sekitar kawasan tetap menjadi tujuan utama. Kondisi ini membuat alun-alun bukan lagi sekadar tempat lewat, melainkan ruang yang dipilih untuk singgah dan menghabiskan waktu.

 

 

Di sisi lain, sejumlah fasilitas yang dahulu menjadi daya tarik utama kini tak lagi berfungsi optimal. Bianglala yang sempat menjadi ikon tampak tidak beroperasi, sementara aktivitas bermain skuter yang dulu ramai kini jarang terlihat. Akibatnya, pergerakan pengunjung cenderung terkonsentrasi pada titik-titik tertentu sehingga ruang terasa lebih padat.

 

Meski demikian, perubahan tersebut justru menunjukkan pergeseran fungsi sosial alun-alun. Ruang publik ini berkembang menjadi tempat jeda, tempat orang datang bukan untuk bergerak cepat, tetapi untuk duduk, berbincang, dan menikmati suasana kota. Alun-alun perlahan berperan sebagai ruang temu bersama yang terbuka bagi siapa saja.

 

Secara historis, kawasan ini memiliki perjalanan panjang. Pada dekade 1950-an, area tersebut dikenal sebagai Alun-alun Tugu sebelum kemudian berkembang menjadi pasar seiring meningkatnya aktivitas ekonomi warga. Setelah mengalami kebakaran, pemerintah membangun kembali kawasan ini pada 1984, saat Kota Batu masih berstatus sebagai kecamatan.

 

 

 

Transformasi besar terjadi pada 2011 ketika alun-alun dikembangkan menjadi Alun-alun Kota Wisata Batu dan diposisikan sebagai ikon pariwisata daerah. Seiring waktu, pengelolaannya pun mengalami perubahan. Sejak 2020, Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Lingkungan Hidup mengambil alih pengelolaan taman, kebersihan, serta sejumlah fasilitas umum akibat keterbatasan perawatan sebelumnya.

 

Kini, selain berfungsi sebagai ruang terbuka hijau, alun-alun juga tumbuh sebagai pusat aktivitas ekonomi rakyat, terutama melalui kawasan kuliner di sisi barat. Keberadaan pedagang kaki lima turut menghidupkan kawasan, meski masih menyisakan tantangan dalam hal penataan dan kenyamanan pengunjung.

 

Di tengah dinamika tersebut, Alun-alun Kota Batu tetap menjadi denyut kehidupan kota. Ia bukan sekadar ikon wisata, tetapi ruang publik yang terus beradaptasi mengikuti perubahan zaman, kebutuhan warga, dan arus kunjungan wisatawan yang datang silih berganti. (ivan)