SURABAYA, PustakaJC.co – Kolektif seni Aksera kembali menghidupkan denyut kesenian di Surabaya melalui pameran bertajuk Jam Kosong Vol. 2. Pameran ini digelar di Gedung Khrisna Mustajab, Jalan Dukuh Kupang XXVII No. 20, Surabaya, sejak 22 Januari hingga 11 Maret 2026, dan dibuka setiap hari pukul 12.00–22.00 WIB.
Berbeda dari pameran seni rupa pada umumnya, Jam Kosong Vol. 2 tidak sekadar menampilkan karya visual, tetapi menjadikan ruang sebagai bagian penting dari karya itu sendiri. Lantai, dinding, hingga langit-langit galeri diolah sebagai medium dialog, sehingga galeri yang sebelumnya terasa pasif berubah menjadi ruang yang hidup dan interaktif. Dilansir dari detik.com, Minggu, (1/2/2026).
Konsep pameran langsung terasa sejak pengunjung memasuki area galeri. Sebuah filosofi pameran terpampang di dinding berwarna hijau toska melalui tipografi timbul, menegaskan bahwa karya seni bukan hanya objek pajang, melainkan subjek yang berdialog dengan ruang dan penikmatnya.
Penataan karya dilakukan dengan mempertimbangkan skala, pencahayaan, serta jarak pandang. Sejumlah karya tidak hanya ditempel di dinding, tetapi juga disusun maju ke ruang atau melengkung mengikuti ritme galeri. Pendekatan ini menciptakan suasana dinamis dan memberi ruang bagi setiap karya untuk “bernapas”.
Salah satu penggagas pameran, Arifin Londo, menekankan bahwa seni rupa menuntut keterlibatan aktif dari pengunjung.
“Kalau pertunjukan, karyanya yang aktif dan penonton pasif. Tapi dalam seni rupa, karyanya pasif. Penontonlah yang harus aktif. Kalau tidak mau mencari tahu atau merasakan, ya tidak akan dapat apa-apa,” ujarnya, Sabtu (31/1/2026).
Untuk menjembatani pengunjung awam, Aksera menghadirkan seni terapan seperti keramik dan tanah liat sebagai pintu masuk interaksi. Pengunjung diajak mencoba langsung proses kreatif, mulai dari membentuk hingga memutar tanah liat, sehingga pengalaman menikmati pameran tidak hanya bersifat visual.
Antusiasme pengunjung terpantau tinggi sepanjang pameran berlangsung. Shinta, kolaborator karya sekaligus kru pameran, menyebut arus pengunjung terus mengalir setiap hari.
“Dari siang sampai malam selalu ada pengunjung. Kalau hari Minggu, satu keluarga bisa datang semua untuk mencoba meja putar keramik,” katanya.
Meski tidak menerapkan pembatasan kuota, pengunjung harus mengantre untuk mengikuti aktivitas interaktif. Sebagai alternatif, tim Aksera menyediakan teknik kuncing atau manual agar pengunjung tetap dapat berkreasi tanpa menunggu terlalu lama.
Di balik estetika ruang pamer, Aksera juga mengungkap realitas ekonomi seniman di Surabaya yang masih penuh tantangan. Karena itu, pameran ini dibuka gratis sebagai bentuk sikap kritis terhadap tren pameran seni privat dan berbiaya tinggi.
“Hidup dari karya seni saja itu cukup sulit. Maka kami juga mengajar, membuat souvenir, dan mengelola kegiatan secara mandiri tanpa bergantung pada hibah,” ungkap perwakilan Aksera.
Salah satu karya ikonik dalam pameran ini adalah instalasi motor tua bergaya 1920-an yang dirakit dari pipa bekas dan dibiarkan berkarat secara alami. Karya tersebut merepresentasikan pertemuan imajinasi masa kecil dengan prinsip seni rupa dewasa.
Selain itu, Jam Kosong Vol. 2 menampilkan karya dari Agung Tato, Agus “Kucing”, Kimin, Shinta Bellinda, dan Nurida. Meski memiliki karakter dan medium berbeda, seluruh karya bersinergi dalam satu semangat: menjaga galeri tetap hidup dan menjadikan ruang sebagai mitra dialog dalam praktik seni rupa di Surabaya. (ivan)