Mangrove Hijau Daun Bawean Diserbu Wisatawan, Jadi Primadona Libur Lebaran

wisata | 28 Maret 2026 18:19

Mangrove Hijau Daun Bawean Diserbu Wisatawan, Jadi Primadona Libur Lebaran
Wisata Konservasi Mangrove Hijau Daun yang dikelola oleh Subhan. (dok gresiksatu)

 

 

GRESIK, PustakaJC.co – Libur Idul Fitri 1447 Hijriah membawa berkah bagi sejumlah destinasi wisata di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah Wisata Konservasi Mangrove Hijau Daun yang berada di Dusun Daun Laut, Desa Daun, Kecamatan Sangkapura.

 

Wisata berbasis masyarakat ini menyuguhkan perpaduan antara rekreasi alam dan edukasi lingkungan. Kawasan konservasi ini melestarikan sekitar 24 jenis tanaman mangrove beserta beragam keanekaragaman hayati, yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. Dilansir dari gresiksatu.com, Sabtu, (28/3/206).

 

Tak hanya menikmati panorama alam yang asri, pengunjung juga dimanjakan dengan berbagai fasilitas seperti pondok edukasi, menara pandang, jogging track, hingga wahana perahu kano. Suasana libur Lebaran juga dimanfaatkan pengunjung untuk berkumpul bersama keluarga, termasuk menggelar kegiatan bakar ikan dan makan bersama di area wisata.

 

Wisata Mangrove Hijau Daun merupakan kawasan binaan PLN Nusantara Power Bawean yang turut mendukung pengembangan wisata berbasis konservasi sekaligus pemberdayaan masyarakat lokal.

 

 

 

Ketua Kelompok Mangrove Hijau Daun, Subhan, mengungkapkan bahwa selama masa libur Idul Fitri jumlah pengunjung mencapai sekitar 1.800 orang. Angka tersebut dihitung sejak tiga hari setelah Lebaran hingga tujuh hari masa liburan.

 

“Pengunjung mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua,” ujarnya, Sabtu, (28/3/2026).

 

Ia menjelaskan, wisata ini dibuka setiap hari kecuali Jumat, mulai pukul 08.00 WIB hingga 16.30 WIB. Harga tiket masuk pun cukup terjangkau, yakni Rp5.000 untuk orang dewasa dan Rp2.000 bagi anak-anak.

 

Menurutnya, lonjakan pengunjung sebenarnya sudah terlihat sejak sebelum Idul Fitri, terutama dari kalangan santri yang pulang ke kampung halaman.

 

“Sebenarnya saat Ramadan kami tutup, tetapi karena banyak santri yang ingin berkunjung akhirnya tetap kami buka,” katanya.

 

 

Pengelola juga menyediakan paket kunjungan bagi rombongan lembaga maupun instansi dengan tarif Rp250 ribu tanpa batas jumlah peserta. Jika rombongan ingin mendapatkan materi edukasi tentang ekosistem mangrove, dikenakan tambahan biaya Rp100 ribu.

 

Selain itu, wahana perahu kano dapat dinikmati dengan tarif Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per orang. Tersedia pula program edukasi pengolahan produk mangrove dengan biaya Rp500 ribu per kelompok atau lembaga.

 

Tak hanya menawarkan wisata alam, kawasan ini juga menjadi pusat pemberdayaan masyarakat. Berbagai kegiatan seperti budidaya udang dan kepiting, peternakan, hingga pengelolaan bank sampah dikelola langsung oleh warga setempat.

 

 

 

Pada momen hari raya, pengelola tidak memberlakukan pembatasan jumlah pengunjung. Namun pada hari biasa dan akhir pekan, jumlah wisatawan dibatasi maksimal 150 orang secara bergantian demi menjaga kapasitas kawasan.

 

“Spot yang paling diminati pengunjung adalah menara tiga lantai setinggi 17 meter, karena dari atas bisa melihat kawasan mangrove seluas 70 hektare,” jelas Subhan.

 

Untuk menambah pengalaman wisata, pengunjung juga dapat membeli berbagai suvenir hasil kerja sama dengan pelaku UMKM lokal, seperti kaos, tikar, gantungan kunci, hingga sajadah yang tersedia di Pondok Patekang. Area tersebut juga dilengkapi aula dan warung kopi.

 

Pengelola turut menyediakan paket kuliner dengan harga Rp250 ribu hingga Rp500 ribu yang menyajikan menu khas nasi gulung lengkap dengan rumput laut, udang, lobster, serta berbagai olahan mangrove.

 

“Wisata konservasi ini tetap diawasi dan dirawat, baik ada maupun tidak ada pengunjung,” pungkasnya.

 

 

Sementara itu, salah satu wisatawan, Wilfatin Najihah (27), mengaku terkesan dengan konsep wisata yang ditawarkan. Menurutnya, Mangrove Hijau Daun bukan sekadar tempat rekreasi, tetapi juga sarana belajar mencintai lingkungan.

 

“Ini wisata satu-satunya di Pulau Bawean yang kaya edukasi dan konservasi. Jadi serasa bersahabat dengan alam,” tuturnya. (ivan)