SURABAYA, PustakaJC.co – Arca Dwarapala menjadi salah satu peninggalan masa Hindu-Buddha yang masih dapat ditemukan di sejumlah situs bersejarah Jawa Timur. Sosoknya dikenal melalui tubuh berukuran besar, wajah garang, mata melotot, taring, serta atribut gada yang menjadi ciri khasnya.
Dalam tradisi Hindu-Buddha, Dwarapala dikenal sebagai penjaga pintu atau kawasan yang dianggap suci. Keberadaannya tidak hanya berkaitan dengan bangunan candi, tetapi juga dipercaya memiliki fungsi sebagai pelindung dari berbagai kekuatan jahat. Dilansir dari detik.com, Senin, (10/8/2026).
Istilah Dwarapala berasal dari bahasa Sanskerta. Kata dwara berarti pintu atau gapura, sedangkan palaberarti penjaga. Karena itu, Dwarapala secara umum dimaknai sebagai penjaga pintu.
Arca ini biasanya dibuat secara berpasangan. Penggambarannya cenderung menunjukkan sosok yang menyeramkan, dengan wajah demonis, mata besar, gigi dan taring yang terlihat, serta membawa gada.
Pada sejumlah Dwarapala berukuran raksasa di Jawa Timur, sosok penjaga tersebut digambarkan dalam posisi duduk bersimpuh. Penempatannya juga tidak selalu berada tepat di depan pintu candi.
Ukuran dan lokasi penempatannya menunjukkan bahwa Dwarapala berukuran besar kemungkinan memiliki fungsi menjaga kawasan yang lebih luas, termasuk kompleks bangunan atau gerbang tertentu.
Keberadaan Dwarapala di Jawa Timur juga menjadi bagian penting dalam melihat perkembangan seni dan kebudayaan dari berbagai masa kerajaan.
1. Dwarapala Totok Kerot Kediri
Salah satu Dwarapala raksasa berada di kawasan Totok Kerot, Kabupaten Kediri. Arca tersebut memiliki tinggi sekitar 3 meter dan digambarkan dalam posisi duduk bersimpuh.
Dwarapala Totok Kerot menjadi salah satu contoh perkembangan gaya seni masa Kadiri. Wajahnya memperlihatkan karakter demonis dengan mata berukuran besar dan menonjol.
Rambutnya digambarkan ikal dan terurai hingga ke bagian belakang tubuh. Salah satu tangan masih berada di atas paha, sementara tangan lainnya telah terputus.
Pada tangan yang masih tersisa terlihat bentuk seperti sedang menggenggam sesuatu. Berdasarkan atribut yang lazim ditemukan pada Dwarapala, benda tersebut diduga merupakan gada.
2. Dwarapala Raos Pacinan Pasuruan
Di Kabupaten Pasuruan terdapat Dwarapala Raos Pacinan yang berada di Desa Carat, Kecamatan Gempol.
Di kawasan tersebut ditemukan sepasang Dwarapala berukuran sekitar 2 meter. Keduanya berada di depan teras berundak yang kini hanya tersisa sebagian.
Di sekitar lokasi juga ditemukan sejumlah peninggalan lain berupa pecahan batu bata, gerabah, dan keramik.
Dwarapala Raos Pacinan menjadi salah satu contoh gaya seni Singhasari awal. Kedua arca digambarkan dalam posisi duduk bersimpuh dengan kondisi yang telah cukup aus.
Meski demikian, karakter sebagai arca penjaga masih terlihat jelas. Salah satu arca diketahui membawa atribut berupa tali jerat, sedangkan pasangannya memiliki posisi tangan yang berbeda.
Lokasi situs ini juga menarik karena nama Desa Carat dikaitkan dengan Rabut Carat, sebuah tempat suci yang disebut dalam konteks masa Singhasari hingga Majapahit.
3. Dwarapala Singosari Malang
Dwarapala Singosari menjadi salah satu arca penjaga yang paling dikenal di Jawa Timur. Arca tersebut berada di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.
Terdapat sepasang Dwarapala berukuran raksasa dengan tinggi sekitar 3 meter. Keduanya dibuat dari batu andesit putih dan berada di sebelah barat gugusan percandian Singosari.
Karakter wajah Dwarapala Singosari tampak garang. Mata berukuran besar, gigi dan taring terlihat saat sosoknya menyeringai.
Arca tersebut juga dilengkapi berbagai hiasan dan atribut, termasuk gada. Detail busananya menjadi salah satu keunikan Dwarapala Singosari.
Penelitian mengenai Dwarapala raksasa di Jawa Timur menyebut arca Singosari memiliki gaya busana yang paling lengkap di antara objek yang dikaji.
Hiasannya meliputi ikat kepala, hiasan telinga, kalung, tali kasta, kelat bahu, gelang, kain, gelang kaki, hingga gada.
4. Dwarapala Candi Penataran Blitar
Jejak Dwarapala raksasa juga dapat ditemukan di kompleks Candi Penataran, Kabupaten Blitar.
Candi yang berada di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, tersebut memiliki sepasang Dwarapala di sisi kanan dan kiri bekas gapura masuk halaman pertama kompleks percandian.
Dwarapala Penataran menjadi salah satu contoh perkembangan gaya seni masa Majapahit. Kedua arca digambarkan dalam posisi duduk bersimpuh dengan wajah yang memperlihatkan karakter demonis.
Kompleks Candi Penataran sendiri memiliki tiga halaman. Dwarapala yang menjadi bagian dari kajian tersebut berada di pintu masuk halaman pertama.
Pada bagian lapik arca disebut terdapat angka tahun 1292 Masehi. Selain wajah dan posisi tubuh, Dwarapala Penataran juga memiliki berbagai detail hiasan.
Di antaranya tata rambut, hiasan telinga, kalung, kelat bahu, gelang, serta atribut gada.
Penanda Perkembangan Seni dan Budaya
Keberadaan Dwarapala di berbagai daerah Jawa Timur tidak hanya menunjukkan keberadaan arca berukuran besar pada masa lampau.
Arca-arca tersebut juga menjadi sumber penting untuk memahami perkembangan seni, keagamaan, serta kebudayaan masyarakat Jawa pada masa Hindu-Buddha.
Kajian terhadap empat Dwarapala raksasa menunjukkan adanya persamaan sekaligus perbedaan dalam bentuk tubuh, busana, atribut, dan gaya ukiran.
Perbedaan tersebut dapat memberikan gambaran mengenai perkembangan seni dari masa Kadiri, Singhasari hingga Majapahit.
Dwarapala Totok Kerot mewakili gaya Kadiri. Dwarapala Raos Pacinan menunjukkan gaya Singhasari awal, Dwarapala Singosari mewakili gaya Singhasari, sedangkan Dwarapala Candi Penataran menunjukkan karakter seni masa Majapahit.
Dengan demikian, Dwarapala tidak hanya dapat dipandang sebagai patung raksasa di kawasan situs kuno. Arca tersebut menyimpan informasi mengenai cara masyarakat masa lalu memaknai ruang sakral, perlindungan, kekuatan, serta perkembangan seni pada setiap zamannya. (ivan)