Jalur Pendakian Arjuno-Welirang Belum Dibuka, Tahura Tunggu Hasil Asesmen Keamanan

wisata | 05 November 2026 18:42

Jalur Pendakian Arjuno-Welirang Belum Dibuka, Tahura Tunggu Hasil Asesmen Keamanan
Pendakian Arjuno-Welirang. (dok tahura)

MALANG, PustakaJC.co – Pendakian Gunung Arjuno-Welirang, Jawa Timur, masih ditutup pascakebakaran hutan yang terjadi pada 17 Oktober 2026. Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo masih menunggu hasil asesmen lapangan untuk memastikan keamanan jalur sebelum aktivitas pendakian kembali dibuka.

 

Kepala UPT Tahura Raden Soerjo, Agustiningtyas Marani, mengatakan kebakaran di kawasan Gunung Arjuno-Welirang memang telah berhasil dipadamkan. Namun, sejumlah titik di jalur pendakian masih memiliki potensi bahaya, terutama akibat keberadaan pohon-pohon yang kondisinya rapuh setelah terbakar. Dilansir dari antaranews.com, Kamis, (5/11/2026).

 

Menurutnya, pohon yang terdampak kebakaran berpotensi roboh sewaktu-waktu dan membahayakan pendaki yang melintas. Karena itu, petugas masih melakukan pemeriksaan untuk menentukan penanganan terhadap pohon-pohon tersebut.

 

“Kebakaran kan sudah padam ya, terus kemarin teman-teman kami minta supaya asesmen atau cek lapangan, itu terus dilakukan dan beberapa jalur pendakian masih rawan banyak pohon yang terbakar, dikhawatirkan kalau ada pendaki melintas terus roboh bagaimana?” kata Agustiningtyas saat dihubungi dari Kota Malang, Kamis, (5/11/2026).

 

 

Ia menjelaskan, hasil pemeriksaan nantinya menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan. Pohon yang dinilai membahayakan dapat ditebang, sedangkan yang masih memungkinkan untuk dipertahankan akan ditangani sesuai hasil asesmen.

 

Selain kondisi pepohonan, pemeriksaan juga menyasar kestabilan tanah di sejumlah titik jalur pendakian. Kebakaran dikhawatirkan turut memengaruhi kondisi tanah sehingga berpotensi mengalami pergeseran, terutama pada jalur dengan kontur miring.

 

Agustiningtyas menyebut terdapat titik di bagian ujung jalur yang perlu mendapat perhatian karena kondisi tanahnya berpotensi gembur. Apabila tidak diperiksa lebih lanjut, kondisi tersebut dikhawatirkan memicu pergeseran tanah hingga longsoran.

 

“Di jalur yang pucuk (ujung) itu kecil, kalau dilewati dikhawatirkan kalau kondisinya (tanah) remah (gembur) bisa bergeser ke bawah, miring,” ujarnya.

 

 

 

UPT Tahura Raden Soerjo belum dapat memastikan waktu pembukaan kembali jalur pendakian Arjuno-Welirang. Penentuan jadwal akan dilakukan setelah seluruh hasil asesmen terkumpul dan kondisi jalur dinyatakan aman untuk dilalui.

 

Hingga saat ini, pengelola juga belum membuka layanan penjadwalan ulang atau reschedule bagi calon pendaki yang sebelumnya telah memiliki jadwal pendakian sebelum penutupan.

 

Meski demikian, kuota pendakian nantinya tetap mengacu pada ketentuan sebelumnya, yakni 550 orang per hari yang terbagi melalui empat jalur resmi.

 

Keempat jalur tersebut meliputi Sumberbrantas di Kota Batu, Tretes dan Tambaksari di Kabupaten Pasuruan, serta Lawang di Kabupaten Malang. Rinciannya, kuota jalur Sumberbrantas sebanyak 200 orang, Tretes dan Tambaksari sebanyak 150 orang, serta Lawang sebanyak 50 orang per hari.

 

Pengelola memastikan aspek keamanan dan keselamatan menjadi pertimbangan utama sebelum aktivitas pendakian kembali diizinkan. Dengan demikian, pembukaan jalur tidak hanya bergantung pada padamnya kebakaran, tetapi juga pada kesiapan kondisi lingkungan dan akses pendakian. (ivan)