Gus Yahya Targetkan 1000 Dapur Gizi untuk Pesantren se-Indonesia

bumi pesantren | 30 Juli 2025 06:00

Gus Yahya Targetkan 1000 Dapur Gizi untuk Pesantren se-Indonesia
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat meresmikan pembangunan Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan meletakkan di Pondok Pesantren Al-Hikamussalfiyah, Wanayasa, Kabupaten Purwakarta. (dok nuonline)

PURWAKARTA, PustakaJC.co – Gizi buruk bukan lagi persoalan kemiskinan semata. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyatakan bahwa 19 persen santri di sejumlah pesantren mengalami gejala anemia, meski makan tiga kali sehari.

“Ini bukan sekadar soal makan siang. Kita ingin memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi anak-anak kita di pesantren memenuhi standar gizi yang layak,” tegas Gus Yahya saat meresmikan pembangunan Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok Pesantren Al-Hikamussalfiyah, Wanayasa, Purwakarta, Jawa Barat, dilansir dari nu.or.id, Rabu, (30/7/2025).

Hasil survei PBNU di beberapa pesantren di Jawa Tengah menunjukkan 1 dari 5 santri mengalami anemia ringan hingga sedang, padahal konsumsi makan mereka teratur.

“Kenyang, iya. Tapi tetap saja ada santri yang kekurangan zat besi, protein, atau vitamin penting lainnya. Ini soal kualitas, bukan kuantitas,” lanjut Gus Yahya.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas PBNU bersama Badan Gizi Nasional (BGN) menargetkan 1.000 dapur bergizi untuk pondok pesantren dan sekolah NU di seluruh Indonesia.

“Dapur-dapur ini tidak dikelola sembarangan. Kepala dapurnya harus orang yang memahami nutrisi dan telah dididik secara khusus oleh BGN,” ungkap Gus Yahya.

Hingga akhir Juli 2025, 47 dapur telah selesai dibangun, 218 yayasan dan pesantren sedang dalam proses verifikasi portal BGN, dan puluhan lainnya menunggu penempatan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) sebagai kepala dapur.

PBNU menegaskan dapur MBG bukan hanya tempat masak, melainkan pusat edukasi gizi. Santri dan pengasuh akan dibekali wawasan nutrisi agar pola konsumsi menjadi lebih sehat dan berkelanjutan.

“Kalau gizinya lemah, bagaimana bisa mencetak generasi unggul? Ini menjadi fondasi dasar,” tegasnya.

Pengawasan terhadap dapur MBG juga terus diperketat bersama BGN, untuk mencegah insiden keracunan dan menjamin kualitas makanan secara menyeluruh.

Ketua PBNU bidang kesejahteraan rakyat Alissa Wahid ditunjuk sebagai Ketua Satgas Percepatan Pelayanan Pemenuhan Gizi PBNU untuk memastikan program berjalan sesuai target dan berkelanjutan.

Di akhir sambutannya, Gus Yahya menekankan bahwa pemenuhan gizi adalah hak dasar, bukan kemewahan.

“Negara, masyarakat, dan semua elemen harus bertanggung jawab atas itu. Makanan sehat dan bergizi adalah hak setiap anak, termasuk para santri,” pungkas Ketua PBNU itu. (ivan)