Kementerian Agama Hadirkan Ditjen Pesantren, Dorong Ekonomi dan Pendidikan Pesantren

bumi pesantren | 07 Februari 2026 05:59

Kementerian Agama Hadirkan Ditjen Pesantren, Dorong Ekonomi dan Pendidikan Pesantren
Menteri Agama Nasaruddin Umar bersilaturahim ke Pesantren Al Itqon Bugen Semarang. (dok kemenag)

SEMARANG, PustakaJC.co - Menteri Agama Nasaruddin Umar memastikan pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren hampir rampung. Menag menegaskan, kehadiran satuan kerja setingkat eselon I ini menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam memberdayakan pesantren dan mendorong kemandirian ekonomi lembaga.

 

Pernyataan itu disampaikan Menag saat berkunjung ke Pesantren Al Itqon, Bugen, Semarang. Dalam kesempatan tersebut, Menag menyerahkan bantuan sebesar Rp100 juta kepada MTs Al Itqon Bugen. Bantuan ini merupakan bagian dari upaya Kemenag memperkuat kualitas pendidikan madrasah dan pesantren di seluruh Indonesia. Dilansir dari kemenag.go.id, Sabtu, (7/2/2026).

 

“Direktorat Jenderal Pesantren menandakan keseriusan pemerintah meningkatkan kesejahteraan pondok pesantren sekaligus mendorong unit usaha produktif agar pesantren semakin mandiri,” ujar Menag, Jumat, (06/02/2026).

 

 

 

Menag menambahkan, pesantren saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, sehingga membutuhkan dukungan yang lebih komprehensif, termasuk ruang belajar yang layak dan sarana digital agar santri tidak tertinggal perkembangan zaman. Ia juga menekankan pentingnya penguatan kompetensi guru dan pengelola pesantren dalam keilmuan Islam dan metodologi pembelajaran adaptif.

 

Selain itu, Menag mendorong pesantren terus mengembangkan unit usaha produktif. 

 

“Pemberdayaan ekonomi pesantren bukan hanya untuk menopang operasional, tetapi juga menjadi wahana pembelajaran kewirausahaan bagi santri,” tambah Menag.

 

 

Pengasuh Pesantren Al Itqon Bugen Semarang, K.H. Kharis Shodaqoh, menyampaikan apresiasi atas perhatian Kemenag terhadap pengembangan pendidikan di pesantren. “Bantuan ini akan dimanfaatkan untuk memperkuat sarana pembelajaran dan pengembangan kegiatan pendidikan, agar santri tidak hanya kuat keilmuan agama, tetapi juga siap menghadapi tantangan sosial dan akademik,” ungkap Kiai Kharis.

 

Pondok Pesantren Al Itqon Bugen menerapkan kurikulum kombinasi 40 persen kitab kuning dan 60 persen kurikulum nasional, dengan metode bandongan, sorogan, dan halaqah, dipadukan pembelajaran modern melalui diskusi tematik dan proyek kolaboratif. Model ini menjaga tradisi keilmuan klasik sekaligus menjawab kebutuhan pendidikan kontemporer.

 

Kemenag berharap penguatan dukungan terhadap madrasah dan pesantren dapat melahirkan generasi santri yang unggul secara keilmuan, berkarakter, dan berdaya saing di tengah perubahan zaman. (ivan)