JAKARTA, PustakaJC.co - KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus mengingatkan umat Islam agar tidak mengandalkan amal semata tanpa dilandasi keikhlasan. Menurutnya, amal yang tidak disertai niat tulus berpotensi kehilangan nilai di hadapan Allah.
Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah itu menyampaikan hal tersebut dalam pengajian Ramadhan yang mengulas kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah, yang dilansir dari nu.or.id, Minggu, (22/2/2026).
Gus Mus menjelaskan, para sufi mengajarkan bahwa amal manusia tidak pernah benar-benar bersih sepenuhnya. Selalu ada potensi tercampur kepentingan lain yang dapat mengurangi bahkan menghilangkan nilai amal tersebut.
Ia mencontohkan ibadah shalat sebagai amal utama. Gus Mus mengutip firman Allah, wailul lil mushallin(celakalah orang-orang yang salat). Namun, ayat itu tidak boleh dipahami secara terpotong, karena kelanjutannya adalah alladzina hum yurā’ūn (yaitu orang-orang yang berbuat riya).
Menurut Mustasyar PBNU itu, tanda amal yang tidak ikhlas adalah adanya kepentingan tertentu di balik ibadah. Sebaliknya, orang yang ikhlas beribadah semata-mata karena dirinya adalah hamba Allah dan sadar bahwa menyembah adalah kewajiban.
Gus Mus juga menyoroti sikap orang yang merasa amalnya sudah cukup untuk menjamin keselamatan di akhirat. Misalnya, ketika seseorang rajin shalat sunnah dan puasa sunnah, lalu merasa pasti masuk surga.
“Itu namanya mengandalkan amal. Ia merasa pasti masuk surga,” ujar Gus mus.
Padahal, lanjutnya, seseorang masuk surga bukan semata-mata karena amal, melainkan karena karunia (fadhal) Allah. Amal hanyalah bentuk penghambaan, bukan jaminan mutlak keselamatan.
Ia menambahkan, orang yang terlalu mengandalkan amal biasanya mudah putus harapan ketika berbuat dosa. Mereka merasa seluruh amalnya menjadi sia-sia. Berbeda dengan orang yang ikhlas, yang tetap beribadah dalam kondisi apa pun.
“Pokoknya tetap beramal. Apa pun yang terjadi, ia tetap beribadah karena memang kewajiban seorang hamba adalah menyembah Allah. Shalat ya shalat saja,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin itu.
Menurutnya, keikhlasan adalah inti dari setiap amal. Tanpa keikhlasan, ibadah berisiko kehilangan makna, sedangkan dengan keikhlasan, amal menjadi bentuk penghambaan yang murni kepada Allah. (ivan)