KH Ubaidullah Dorong Pertanian Jadi Prioritas Penguatan Warga Nahdliyin

bumi pesantren | 11 Agustus 2026 07:58

KH Ubaidullah Dorong Pertanian Jadi Prioritas Penguatan Warga Nahdliyin
Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shodaqoh. (dok nuonline)

SEMARANG, PustakaJC.co – Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh mendorong sektor pertanian menjadi salah satu prioritas dalam peta jalan pembangunan Nahdlatul Ulama (NU).

 

Menurutnya, penguatan sektor pertanian merupakan bagian dari khidmah NU kepada warga Nahdliyin yang banyak menggantungkan kehidupan pada sektor tersebut. Dilansir dari nu.or.id, Selasa, (11/8/2026).

 

Hal itu disampaikan KH Ubaidullah dalam Muktamar Petani Nahdliyyin yang digelar di Pesantren Al-Itqon, Semarang, Jawa Tengah, Senin (10/8/2026). Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi sekaligus penyampaian aspirasi petani warga NU di Jawa Tengah.

 

Kegiatan itu mempertemukan para petani, khususnya pegiat pertanian organik, dengan pengurus NU dan Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU).

 

“Selama ini warga Nahdliyin yang notabene petani—dalam tanda kutip ada yang buruh, ada yang memang petani gurem—itu harus dikoordinir dengan yang bagus,” kata KH Ubaidullah.

 

 

Ia menjelaskan, keberadaan LPPNU tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi pertanian. Lembaga tersebut juga memiliki peran dalam menjaga kultur pertanian sekaligus mendorong pola pertanian yang ramah lingkungan.

 

“LPPNU itu kan Lembaga Pengembangan Pertanian NU. Kultur itu ya kebudayaan. Agrikultur itu ya bagaimana merawat kebudayaan, dalam hal ini dalam budaya pertanian,” ujarnya.

 

KH Ubaidullah menilai NU perlu hadir untuk memperkuat posisi petani agar mampu menentukan arah pengelolaan pangan dan hasil pertanian secara mandiri.

 

“Sebab Jam’iyyah Nahdlatul Ulama itu khidmah kepada umat itu ya kalau mayoritas umatnya itu petani, ya petani harus dijadikan prioritas. Prioritas diurusin,” katanya.

 

Ia mengatakan penguatan tersebut diperlukan agar petani Nahdliyin tidak terus bergantung pada kekuatan di luar jam’iyyah.

 

“Kita harus kuat sendiri, harus berdaulat sendiri, menentukan makan sendiri, menjual sendiri, mana yang perlu dijual dan makan mana yang artinya makanan yang organik ini adalah makanan yang sangat sehat sekali,” jelasnya.

 

 

Pengasuh Pesantren Al-Itqon itu menambahkan, Muktamar Petani Nahdliyyin juga bertujuan menghimpun aspirasi petani untuk dibawa ke Muktamar NU mendatang.

 

Menurutnya, sejumlah daerah di Jawa Tengah memiliki basis pertanian yang kuat, seperti Blora, Klaten, Sragen, Cilacap, dan Kabupaten Semarang.

 

Potensi tersebut, kata dia, perlu dikembangkan melalui kerja yang konsisten dan berkelanjutan.

 

“Jadi memang kita memerlukan perjuangan yang tidak sebentar, tapi harus istikamah terus, kontinuitas, sustainability itu harus kita jaga,” ujarnya.

 

 

KH Ubaidullah juga menekankan pentingnya membangun kesadaran dan karakter petani. Ia menyebut konsep tersebut sebagai “ideologi tani”, yakni cara pandang yang menempatkan petani bukan hanya sebagai penghasil produk, tetapi juga sebagai penjaga lingkungan.

 

Dengan penguatan tersebut, sektor pertanian diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan dan kemandirian pangan warga Nahdliyin. (ivan)