Mengurai Makna Keramat Bersama Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar

bumi pesantren | 21 September 2026 10:24

Mengurai Makna Keramat Bersama Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar
Kiai Miftach Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. (dok nuonline)

SURABAYA, PustakaJC.co -  Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menegaskan bahwa keramat bukanlah puncak kesuksesan dalam perjalanan spiritual seorang hamba. Hal tersebut disampaikan dalam pengajian rutin Syarah Al-Hikam di Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya.

 

Menurut Kiai Miftach, keramat merupakan kemampuan luar biasa yang dianugerahkan Allah SWT kepada para wali atau hamba pilihan. Namun, capaian tersebut semestinya dipahami sebagai batu lompatan untuk meraih kebaikan-kebaikan selanjutnya, bukan akhir dari pencapaian batin. Dilansir dari nu.or.id, Senin, (21/9/2026).

 

"Keramat itu bukan sebuah puncak kesuksesan, tetapi sesuatu yang masih punya kelanjutan," tegas Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah tersebut.

 

 

 

Alat Bantu dan Penguat Dakwah Dalam penjelasannya, Kiai Miftach mengingatkan jamaah agar tidak terlalu mengobsesikan keramat. Anugerah luar biasa ini justru diberikan sebagai alat bantu bagi para wali yang masih memiliki keterbatasan dalam menjalankan misi penyebaran ilmu dan kasih sayang.

 

Ia mengibaratkan keramat layaknya seorang pengacara dalam persidangan yang bertugas membela, membantu, serta memperkuat posisi kliennya.

 

"Keramat itu seperti juru bicara atau pengacara, karena ada wali kelas tertentu yang membutuhkan penguat untuk menyampaikan suatu kebenaran," jelasnya.

 

 

Proses Laku Lahir dan Batin Untuk

menempuh perjalanan spiritual, Kiai Miftach menekankan pentingnya proses belajar dan pengamalan ilmu secara konsisten. Menurutnya, perjalanan batin harus diawali dengan menuntut ilmu (mengaji), merenungkan keterangannya, lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Ia juga mencontohkan kisah ulama-ulama besar seperti Ibnu 'Athaillah al-Iskandari dan Syekh Izzuddin bin Abdissalam yang pada awalnya sempat meragukan kewalian guru mereka. Keraguan tersebut baru terkikis setelah munculnya tanda-tanda kewalian serta keramat dari sang guru.

 

Di akhir pemaparannya, Kiai Miftach mengingatkan agar siapa pun yang mendapatkan karunia spiritual tidak boleh terlena. Keramat harus disikapi secara bijak dengan terus menolak keburukan dan konsisten mengembangkan kebaikan demi melanjutkan perjalanan menuju ridha Allah SWT. (ivan)