Menag Nasaruddin Umar Sebut Indonesia Jadi Model Moderasi Beragama di Mata Dunia

bumi pesantren | 31 Oktober 2026 08:22

Menag Nasaruddin Umar Sebut Indonesia Jadi Model Moderasi Beragama di Mata Dunia
Itjen Kemenag Khairunas; Menag Nasaruddin Umar; Staf Ahli Menteri Agama yang juga Plt. Dirjen Bimas Katolik Adiyarto Sumardjono (kiri ke kanan). (dok kemenag)

 

JAKARTA, PustakaJC.co – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyebut Indonesia semakin mendapat perhatian dunia internasional sebagai model dalam menerapkan moderasi beragama. Hal itu terlihat dari respons positif sejumlah tokoh agama dan perwakilan negara dalam rangkaian kunjungan kerjanya ke Assisi, Italia, dan Vatikan.

 

Nasaruddin mengatakan, kunjungan tersebut tidak hanya memperkuat diplomasi keagamaan Indonesia, tetapi juga membuka peluang kerja sama di bidang pendidikan, dialog antaragama, dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan. Dilansir dari kemenag.go.id, Sabtu, (31/10/2026).

 

Sepulang dari Italia dan Vatikan pada Kamis, (29/10/2026), Nasaruddin mengungkapkan sejumlah negara telah menyampaikan ketertarikan untuk menjalin kolaborasi dengan Kementerian Agama (Kemenag) dan Masjid Istiqlal.

 

 

Negara-negara tersebut di antaranya Inggris, Australia, dan Pakistan.

 

“Mereka ingin kerja sama dengan Kementerian Agama dan Istiqlal, terutama di Inggris, ya, kemarin Inggris, Australia, dan Pakistan,” ujar Nasaruddin.

 

Menurutnya, ketertarikan tersebut menjadi indikasi bahwa pengalaman Indonesia dalam menjaga kerukunan di tengah keberagaman semakin diakui secara internasional.

 

“Pokoknya Indonesia itu sekarang jadi model, ya, terutama moderasi beragama kita,” ungkapnya.

 

Peluang kolaborasi juga datang dari dua perguruan tinggi di Italia dan Vatikan yang ingin menjalin kerja sama dengan Indonesia. Salah satunya adalah Pontificio Istituto di Studi Arabi e d’Islamistica (PISAI), lembaga pendidikan tinggi di bawah Takhta Suci Vatikan yang berfokus pada studi Arab dan Islam.

 

Nasaruddin menilai, kerja sama tersebut dapat menjadi sarana pertukaran pengetahuan. Indonesia memiliki pengalaman dalam membangun kehidupan masyarakat yang majemuk, sedangkan Vatikan mempunyai kekayaan literatur dan tradisi keilmuan yang dapat dipelajari bersama.

 

“Mereka berkepentingan untuk belajar ke Indonesia. Kita pun juga, saya kira, perlu belajar di Vatikan,” tuturnya.

 

 

Dalam kunjungan tersebut, Nasaruddin juga berkesempatan mengunjungi perpustakaan Vatikan. Ia mengaku menemukan berbagai koleksi literatur Islam, termasuk kitab-kitab yang relatif sulit dijumpai di Indonesia maupun sejumlah negara Timur Tengah.

 

Selain membuka peluang kerja sama, gagasan ekoteologi dan diplomasi keagamaan yang disampaikan Indonesia dalam forum internasional di Assisi turut mendapat perhatian penyelenggara.

 

Nasaruddin menyampaikan, materi pidato Indonesia bahkan berpeluang diangkat menjadi tema utama dalam agenda pertemuan internasional berikutnya.

 

“Jadi, statement kita tentang ekoteologi dan tentang religious diplomacy itu nanti juga akan dijadikan tema besar yang akan datang,” jelasnya.

 

 

 

Ia menambahkan, peserta forum juga menunjukkan ketertarikan terhadap Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa di tengah keberagaman. Ketertarikan tersebut membuat sesi penyampaian materi Indonesia yang semula dijadwalkan selama tujuh menit berkembang menjadi sekitar 30 menit.

 

“Karena mereka itu tertarik, minta dijelaskan tentang Pancasila. Pancasila itu bisa menjadi bukan hanya nilai-nilai Indonesia, tetapi juga bisa menjadi nilai-nilai universal,” katanya.

 

Nasaruddin menyebut, sejumlah gagasan kerja sama antarumat beragama yang sebelumnya dikembangkan melalui Masjid Istiqlal juga berpeluang ditindaklanjuti. April 2027 menjadi salah satu momentum yang disiapkan untuk melanjutkan pembahasan tersebut.

 

 

 

Dalam rangkaian kunjungan itu, Nasaruddin juga diterima Menteri Luar Negeri Vatikan untuk membahas penguatan hubungan bilateral, khususnya kerja sama dalam menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan universal.

 

Menurut Nasaruddin, Vatikan memandang Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim yang besar sekaligus memiliki pengalaman dalam menjaga kehidupan beragama yang moderat.

 

Ia menilai, salah satu titik temu hubungan Indonesia dan Vatikan adalah komitmen untuk membela kelompok masyarakat yang mengalami penindasan tanpa membedakan latar belakang agama.

 

“Bahwa siapa pun yang tertindas itu harus dibela, dari kelompok agama mana pun,” tegasnya.

 

Nasaruddin berharap berbagai respons positif selama kunjungan tersebut dapat ditindaklanjuti menjadi kerja sama konkret, terutama dalam bidang pendidikan, dialog antaragama, dan diplomasi keagamaan.

 

“Dan itulah, saya kira, connecting yang sangat bagus antara Indonesia dan Vatikan,” pungkasnya. (ivan)