Ulama Perempuan dan Pesantren Indonesia Jadi Kajian Akademisi Enam Negara

bumi pesantren | 05 November 2026 07:56

Ulama Perempuan dan Pesantren Indonesia Jadi Kajian Akademisi Enam Negara
Menag Nasaruddin Umar. (dok kemenag)

JAKARTA, PustakaJC.co – Tradisi keilmuan pesantren dan kontribusi ulama perempuan dalam membangun keadilan sosial menjadi perhatian akademisi, peneliti, dosen, hingga mahasiswa dari enam negara. Kajian tersebut dikemas melalui International Short Course 2026 bertajuk Learning Islam Through Women Ulama, Knowledge, Justice, and Social Transformation in Indonesia.

 

Program akademik internasional yang berlangsung pada 2–9 November 2026 di Jakarta dan Cirebon itu dibuka Menteri Agama Nasaruddin Umar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin, (2/11/2026).

 

Kegiatan ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan lintas negara untuk memahami bagaimana ajaran Islam dipelajari, ditafsirkan, dan dipraktikkan melalui ekosistem pesantren serta jaringan ulama perempuan di Indonesia. Dilansir dari kemenag.go.id, Kamis, (5/11/2026).

 

Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai Indonesia memiliki karakteristik tersendiri dalam perkembangan keislaman. Interaksi antara keilmuan agama, budaya lokal, institusi pendidikan, masyarakat sipil, dan nilai demokrasi menjadikan Islam berkembang secara dinamis.

 

“Indonesia merupakan laboratorium hidup bagi perkembangan Islam. Di sini, ajaran Islam terus dikaji, dipraktikkan, dan dikembangkan melalui interaksi antara keilmuan agama, budaya lokal, institusi pendidikan, masyarakat sipil, dan nilai-nilai demokrasi. Islam tidak hanya hidup dalam perdebatan teks klasik, tetapi mewujud di tengah pesantren dan keseharian masyarakat,” ujar Nasaruddin.