Gus Kautsar Ajak Santri Perkuat Nalar Kritis untuk Melawan Hoaks

bumi pesantren | 06 November 2026 09:52

Gus Kautsar Ajak Santri Perkuat Nalar Kritis untuk Melawan Hoaks
Rais Syuriyah PBNU KH Abdurrahman al-Kautsar menyampaikan tausiyah pada Puncak Peringatan Hari Santri di Depok Open Space, Kota Depok, Jawa Barat. (dok nuonline)

DEPOK, PustakaJC.co - Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, KH Abdurrahman al-Kautsar atau Gus Kautsar, mengajak para santri berperan aktif melawan penyebaran berita bohong atau hoaks. Menurutnya, upaya tersebut perlu dimulai dari introspeksi diri, peningkatan kompetensi, serta penguatan kepekaan hati nurani dalam menyikapi informasi.

 

Pesan tersebut disampaikan Gus Kautsar saat memberikan tausiyah dalam Puncak Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Depok Open Space, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis, (5/11/2026) malam.

 

Dalam kesempatan itu, Gus Kautsar mengingatkan santri agar tidak menjadi bagian dari kelompok yang mudah terbawa arus informasi tanpa memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menilai kebenarannya.

 

“Jika tidak bisa jadi santri yang baik, yang sadar akan kesalahan dan kebodohannya, jangan sampai jadi hamaj. Ini yang paling berbahaya,” kata Gus Kautsar, dikutip dari nu.or.id, Jumat, (6/11/2026).

 

 

Ia menjelaskan, hamaj merupakan kelompok orang yang tidak memiliki pengetahuan dan kepekaan perasaan. Mereka cenderung mengikuti arah kelompok tanpa berpegang pada prinsip maupun pertimbangan yang matang.

 

Kondisi tersebut, menurutnya, semakin berisiko di tengah perkembangan media digital yang memungkinkan informasi menyebar dengan sangat cepat. Tidak sedikit informasi yang mengandung fitnah dan kebohongan beredar tanpa melalui proses pemeriksaan kebenaran.

 

“Dia hanya ikut ke mana angin berembus. Ini bahaya sekali, apalagi di zaman media yang supercepat, fitnah dan kebohongan ada di mana-mana,” ujarnya.

 

 

 

Gus Kautsar juga mengingatkan adanya bahaya penyebaran kebohongan yang tidak hanya merugikan secara materi, tetapi juga dapat merusak cara seseorang berpikir dan mengambil keputusan.

 

Ia mengibaratkan penyebar berita bohong sebagai pencuri yang mengambil sesuatu yang lebih berharga daripada harta benda, yakni akal, nurani, hingga keyakinan seseorang.

 

“Tapi ada satu lagi pencuri yang paling ngeri namanya kadzab, adalah orang yang suka menyebarkan berita-berita bohong karena yang ia ambil adalah akalmu, nuranimu, sampai keyakinanmu,” ungkapnya.

 

Menurut Gus Kautsar, kebohongan dapat menjadi sumber berbagai persoalan sosial. Informasi yang tidak benar berpotensi memicu adu domba, menumbuhkan kebencian, hingga menimbulkan permusuhan di tengah masyarakat.

 

“Kebohongan itu adalah sumber utama semua kehancuran,” tegasnya.

 

 

 

Ia menambahkan, penyebaran hoaks bertentangan dengan nilai dasar kehidupan yang diajarkan Islam. Kehadiran Islam, menurutnya, membawa misi untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang aman, nyaman, tenang, dan damai.

 

“Padahal datangnya Islam ini, yang menjadi kampanye utama kesantrian, adalah memastikan semua orang bisa hidup dalam kondisi aman, nyaman, tenang dan damai. Itu tugas pokoknya santri,” jelasnya.

 

Karena itu, Rais Syuriyah PBNU bidang Dakwah Digital tersebut meminta para santri lebih cermat dalam menerima maupun menyebarkan informasi, khususnya melalui media sosial.

 

Ia menekankan pentingnya kemampuan menyaring berita sebelum mempercayai atau membagikannya kepada orang lain. Kecepatan arus informasi harus diimbangi dengan sikap kritis dan kehati-hatian agar masyarakat tidak mudah terpengaruh kabar yang belum jelas kebenarannya.

 

Gus Kautsar mengingatkan bahwa perubahan pola penyebaran informasi saat ini menuntut masyarakat memiliki kecakapan dalam membaca, memahami, dan memverifikasi setiap informasi yang diterima.

 

“Betapa pentingnya kita sebagai seorang santri, sebagai bangsa kita harus berhati-hati betul, bagaimana kita memfilter yang namanya berita,” pungkasnya.

 

Melalui pesan tersebut, Gus Kautsar menegaskan bahwa peran santri dalam menghadapi tantangan era digital tidak hanya sebatas meningkatkan pengetahuan agama, tetapi juga membangun kesadaran literasi informasi dan menjaga kerukunan di tengah masyarakat. (ivan)